Argentina tetap menjadi pusat perhatian meski berhasil melaju hingga final Piala Dunia 2026. Bukan hanya karena penampilan Lionel Messi dan keberhasilan tim asuhan Lionel Scaloni mempertahankan peluang menjadi juara dunia, tetapi juga akibat munculnya petisi online yang meminta FIFA mendiskualifikasi Argentina dari turnamen.
Petisi tersebut dibuat melalui situs Argentina Out dan menjadi viral setelah mengangkat tuduhan bahwa Argentina memperoleh keuntungan dari sejumlah keputusan wasit dan VAR selama Piala Dunia 2026. Kampanye itu meminta adanya aturan yang konsisten, transparansi dalam proses pengambilan keputusan, serta kompetisi yang dianggap lebih adil bagi seluruh peserta.
Menurut laporan Times of India yang diterbitkan pada 15 Juli 2026, jumlah dukungan terhadap petisi tersebut telah melewati 10 juta tanda tangan. Angka itu membuat kampanye Argentina Out menjadi salah satu petisi sepak bola paling ramai dibicarakan selama Piala Dunia 2026.
Namun, terdapat perbedaan data yang perlu diperhatikan. Naskah awal menyebut jumlah penandatangan telah mencapai sekitar 16 juta dengan target lima juta. Sementara itu, halaman resmi Argentina Out yang dapat diakses saat artikel ini disusun menampilkan target 10 juta, tetapi angka penghitung dukungannya tidak terbaca dengan sempurna pada versi halaman yang terindeks. Karena itu, angka 16 juta sebaiknya tidak ditulis sebagai fakta pasti tanpa tangkapan layar atau catatan waktu yang jelas.
Petisi Argentina Out Minta FIFA Mendepak Argentina
Kampanye Argentina Out menyebut dirinya sebagai gerakan yang dipimpin oleh penggemar sepak bola. Tujuan utamanya adalah mendesak agar Argentina dikeluarkan dari Piala Dunia 2026 karena dianggap mendapatkan perlakuan berbeda dibandingkan tim-tim lain.
Dalam keterangan di situs tersebut, pengelola kampanye meminta penerapan aturan yang konsisten, kepemimpinan wasit yang transparan, dan persaingan yang adil bagi setiap negara. Situs itu juga menampilkan berbagai unggahan publik dari platform X sebagai alasan mengapa Argentina dianggap perlu diperiksa.
Beberapa isu yang diangkat meliputi kontroversi laga melawan Mesir, keputusan dalam pertandingan menghadapi Swiss, konsistensi intervensi VAR, perilaku terhadap perangkat pertandingan, hingga nyanyian diskriminatif yang dituduhkan kepada sebagian pendukung.
Meski demikian, pengelola situs secara terbuka menjelaskan bahwa unggahan media sosial yang ditampilkan merupakan komentar para suporter, bukan hasil penyelidikan resmi atau bukti bahwa Argentina terbukti melakukan kecurangan.
Halaman tersebut juga menegaskan bahwa Argentina Out tidak memiliki hubungan dengan FIFA, federasi sepak bola nasional mana pun, atau pemain yang disebutkan. Dengan kata lain, petisi ini merupakan kampanye penggemar dan tidak memiliki kekuatan hukum untuk langsung mendiskualifikasi sebuah tim.
Kontroversi Argentina vs Mesir Menjadi Pemicu Utama
Petisi tersebut mendapatkan perhatian luas setelah pertandingan Argentina melawan Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Dalam laga itu, Argentina melakukan kebangkitan dramatis dan menang dengan skor 3-2 setelah sebelumnya tertinggal dua gol.
Mesir tampil mengejutkan dan sempat berada dalam posisi sangat dekat untuk menyingkirkan juara bertahan. Namun, Argentina mencetak tiga gol dalam sekitar 13 menit terakhir dan membalikkan keadaan.
Pertandingan tersebut kemudian memicu kontroversi besar karena sejumlah keputusan wasit dan VAR. Salah satu gol Mesir dianulir setelah pemeriksaan video, sementara gol kemenangan Argentina tetap disahkan meskipun muncul klaim adanya pelanggaran terhadap Mohamed Salah dalam proses terjadinya serangan.
Federasi Sepak Bola Mesir kemudian mengajukan protes resmi kepada FIFA. Mereka menilai penggunaan VAR tidak dilakukan secara tepat dan terdapat beberapa keputusan yang memengaruhi hasil akhir pertandingan.
Menurut WIRED, federasi Mesir menyatakan tidak dapat berdiam diri terhadap keputusan-keputusan yang terjadi dalam pertandingan tersebut. Mereka juga meminta FIFA melakukan penyelidikan atas dugaan ketidakkonsistenan dalam penerapan teknologi video.
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, juga menyampaikan kritik keras. Ia menilai kesalahan yang dilakukan perangkat pertandingan berpengaruh besar terhadap hasil laga. Ucapannya kemudian menjadi salah satu bahan utama yang digunakan penggemar untuk memperkuat tuduhan bahwa Argentina mendapatkan perlakuan istimewa.
Argentina Dituding Mendapat Perlakuan Khusus
Narasi mengenai keberpihakan terhadap Argentina tidak hanya muncul setelah pertandingan melawan Mesir. Sejak awal turnamen, sejumlah keputusan yang melibatkan Lionel Messi dan rekan-rekannya telah menjadi bahan perdebatan di media sosial.
Sebagian penggemar menuding FIFA memiliki kepentingan komersial agar Messi dapat bertahan selama mungkin dalam turnamen. Status Messi sebagai salah satu pemain terbesar sepanjang sejarah sepak bola membuat setiap pertandingan Argentina mendapatkan perhatian global yang sangat besar.
Dari sudut pandang pemasaran, keberadaan Messi jelas memberikan nilai tinggi bagi Piala Dunia. Namun, nilai komersial tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa FIFA sengaja mengatur pertandingan atau menginstruksikan wasit untuk membantu Argentina.
Petisi Argentina Out mengutip tuduhan bahwa pemenang turnamen seolah sudah ditentukan sejak awal. Narasi tersebut terdengar kuat secara emosional, terutama bagi pendukung tim yang merasa dirugikan. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada dokumen, rekaman komunikasi, hasil penyelidikan independen, atau temuan resmi yang membuktikan FIFA mengatur Argentina agar melaju ke final.
Kontroversi keputusan wasit merupakan fakta yang dapat dibahas. Sementara tuduhan bahwa keseluruhan turnamen telah direkayasa masih berada dalam wilayah dugaan dan opini.
Scaloni Membantah Argentina Dibantu FIFA
Lionel Scaloni menolak tuduhan bahwa Argentina memperoleh bantuan dari wasit atau FIFA. Menjelang pertandingan perempat final, pelatih Argentina itu mengatakan tuduhan serupa bukan sesuatu yang baru bagi tim nasionalnya.
Scaloni mengingatkan bahwa pada Piala Dunia 1986 pun terdapat pihak-pihak yang menuduh Argentina mendapatkan keuntungan yang tidak adil. Menurutnya, keberhasilan Argentina memang sering memunculkan kritik dari kelompok yang tidak senang melihat mereka menang.
Pelatih berusia 48 tahun itu juga menilai keberadaan VAR dan berbagai teknologi modern membuat upaya memberikan keuntungan secara sengaja kepada sebuah tim menjadi jauh lebih sulit.
Meski demikian, pernyataan Scaloni bahwa teknologi hampir menghilangkan ruang untuk penafsiran tidak sepenuhnya diterima oleh para pengamat. Sistem VAR tetap bergantung pada manusia yang memilih sudut kamera, menilai tingkat kontak, dan memutuskan apakah sebuah kejadian memenuhi standar “kesalahan yang jelas dan nyata”.
Times of India melaporkan bahwa Scaloni menganggap tuduhan favoritisme justru dapat menjadi motivasi tambahan bagi pemain Argentina untuk tampil lebih baik di lapangan.
VAR Tidak Selalu Menghilangkan Kontroversi
Kehadiran VAR pada awalnya diharapkan dapat mengurangi kesalahan besar dalam pertandingan. Teknologi itu memungkinkan perangkat pertandingan memeriksa gol, penalti, kartu merah langsung, kesalahan identitas pemain, dan sejumlah kejadian penting lainnya.
Pada Piala Dunia 2026, ruang lingkup VAR juga diperluas. Teknologi tersebut dapat membantu mengoreksi kartu kuning kedua yang keliru serta memeriksa dorongan, penghalangan, offside, atau pelanggaran penyerang sebelum sebuah gol dari bola mati.
Sistem VAR di Piala Dunia memiliki akses ke puluhan kamera, termasuk tayangan gerak lambat dan teknologi offside semiotomatis. Akan tetapi, seluruh informasi tersebut tetap harus diterjemahkan oleh wasit.
Sejumlah mantan wasit dan analis menilai masalah utama VAR bukan hanya pada teknologinya, melainkan pada konsistensi orang yang menggunakannya. Dua kejadian dengan pola hampir sama dapat menghasilkan keputusan berbeda karena dinilai oleh tim wasit yang berbeda.
VAR membantu wasit memperoleh informasi yang lebih lengkap, tetapi tidak menjamin seluruh keputusan menjadi objektif seratus persen. Sepak bola tetap memiliki banyak situasi yang bergantung pada interpretasi, seperti intensitas kontak, posisi tangan alami, atau apakah sebuah pelanggaran cukup jelas untuk membatalkan gol.
Kondisi inilah yang membuat pertandingan Argentina melawan Mesir terus diperdebatkan. Bagi pendukung Mesir, keputusan tersebut dianggap sebagai bukti ketidakadilan. Bagi pendukung Argentina, hasil laga merupakan konsekuensi dari perjuangan hingga menit akhir.
Apakah Petisi Bisa Membuat Argentina Didiskualifikasi?
Meski telah memperoleh jutaan dukungan, petisi online tidak otomatis dapat membuat FIFA mengeluarkan Argentina dari Piala Dunia 2026.
Diskualifikasi sebuah negara biasanya membutuhkan pelanggaran serius yang dapat dibuktikan, seperti penggunaan pemain tidak sah, campur tangan pemerintah yang melanggar aturan, pelanggaran doping yang terorganisasi, manipulasi pertandingan, atau pelanggaran berat terhadap regulasi kompetisi.
Ketidakpuasan terhadap keputusan wasit saja belum cukup menjadi dasar diskualifikasi. FIFA dapat mengevaluasi kinerja perangkat pertandingan, memeriksa laporan wasit, atau merespons protes resmi dari federasi. Namun, keputusan pertandingan umumnya tetap berlaku kecuali ditemukan pelanggaran prosedural yang sangat berat.
Argentina Out sendiri bukan petisi resmi FIFA. Situs tersebut juga menjelaskan bahwa kampanye ini berdiri sendiri dan tidak berafiliasi dengan badan sepak bola dunia.
Karena itu, fungsi utama petisi lebih kepada menunjukkan besarnya ketidakpercayaan sebagian penggemar terhadap proses kepemimpinan pertandingan. Jumlah tanda tangan yang sangat besar dapat menciptakan tekanan publik, tetapi tidak mempunyai kewenangan langsung mengubah hasil pertandingan.
Jumlah Tanda Tangan Juga Perlu Diverifikasi
Besarnya jumlah dukungan menjadi salah satu bagian paling menarik dalam pemberitaan petisi Argentina Out. Times of India melaporkan lebih dari 10 juta orang telah menandatanganinya pada 15 Juli 2026.
Namun, mekanisme penghitungan suara dalam petisi tersebut juga layak diperiksa. Situs Argentina Out menyediakan pemungutan suara dengan satu klik, bukan melalui platform petisi besar yang biasanya meminta verifikasi email atau identitas tertentu.
Pada bagian pertanyaan yang sering diajukan, situs tersebut bahkan mencantumkan pertanyaan mengenai apakah satu orang dapat memberikan suara lebih dari sekali. Namun, jawaban lengkapnya tidak terlihat pada versi halaman yang berhasil terindeks.
Hal ini tidak otomatis berarti jumlah tanda tangan palsu. Akan tetapi, tanpa audit independen, sulit memastikan apakah jutaan dukungan tersebut berasal dari individu unik, apakah terdapat perlindungan terhadap bot, dan bagaimana angka penghitungannya diverifikasi.
Karena itu, penulisan berita yang aman adalah menyebut angka tersebut sebagai jumlah yang diklaim atau ditampilkan oleh pengelola petisi, bukan jumlah individu terverifikasi secara independen.
Gelombang Protes Tidak Menghapus Prestasi Argentina
Kontroversi yang muncul sepanjang Piala Dunia 2026 tidak menghapus fakta bahwa Argentina tetap harus memenangkan pertandingan di atas lapangan. Tim asuhan Scaloni menunjukkan kemampuan bangkit saat tertinggal dari Mesir dan kemudian terus melaju hingga pertandingan puncak.
Namun, keberhasilan tersebut juga tidak berarti kritik terhadap wasit harus diabaikan. FIFA memiliki tanggung jawab menjaga kepercayaan publik dengan menjelaskan keputusan kontroversial secara terbuka dan konsisten.
Petisi Argentina didiskualifikasi menunjukkan adanya masalah yang lebih besar daripada sekadar kebencian terhadap satu tim. Jutaan penggemar merasa proses pengambilan keputusan dalam sepak bola modern belum cukup transparan, meskipun sudah menggunakan teknologi canggih.
Pada akhirnya, belum ada bukti resmi yang menunjukkan Argentina mengatur pertandingan atau mendapatkan bantuan terencana dari FIFA. Protes Mesir, kontroversi VAR, dan petisi penggemar merupakan hal nyata, tetapi kesimpulan bahwa pemenang telah ditentukan sejak awal masih belum dapat dibuktikan.
Selama tidak ditemukan pelanggaran berat, peluang Argentina didiskualifikasi hanya karena petisi online sangat kecil. Namun, gelombang protes tersebut tetap menjadi peringatan bagi FIFA bahwa kepercayaan penonton dapat menurun apabila keputusan penting tidak dijelaskan secara terbuka.
Youtube : https://youtube.com/shorts/NXHBT2Takd8?si=KdyEojmh46PKHThD
Tiktok : https://www.tiktok.com/@majalahbola1/video/7664382649661738260?_r=1&_t=ZS-98AxLEEuDeG
Sumber Artikel
- Times of India — Laporan mengenai lebih dari 10 juta dukungan terhadap petisi yang meminta Argentina dikeluarkan dari Piala Dunia 2026:
https://timesofindia.indiatimes.com/sports/football/fifa-world-cup/over-10-million-sign-petition-to-kick-argentina-out-of-fifa-world-cup-amid-referee-bias-claims/articleshow/132416736.cms - Argentina Out — Halaman resmi kampanye dan petisi penggemar:
https://argentinaout.org/ - WIRED — Pembahasan kontroversi VAR pada pertandingan Argentina melawan Mesir dan protes resmi Federasi Sepak Bola Mesir:
https://www.wired.com/story/the-problem-with-var-at-the-2026-world-cup-isnt-the-technology-its-who-interprets-it/
