Jadon Sancho pernah berada di puncak daftar pemain muda paling menarik di Eropa. Kecepatan, kreativitas, kemampuan melewati lawan, serta produktivitasnya bersama Borussia Dortmund membuat banyak klub besar berebut mendapatkan tanda tangannya.
Manchester United akhirnya memenangkan persaingan tersebut pada musim panas 2021. Setan Merah mengeluarkan sekitar 85 juta euro atau 73 juta poundsterling untuk membawa Sancho kembali ke Inggris. Transfer itu dipandang sebagai investasi besar untuk memperkuat sisi kanan serangan dan membantu United kembali bersaing memperebutkan gelar.
Namun, lima tahun setelah transfer mahal tersebut, situasinya berubah drastis.
Sancho kini berstatus tanpa klub setelah kontraknya bersama Manchester United berakhir pada Juni 2026. Pemain yang dahulu diburu klub-klub elite itu masih mencari tempat baru untuk melanjutkan kariernya. Transfermarkt mencatat Sancho tidak memiliki klub sejak 1 Juli 2026.
Meski demikian, pernyataan bahwa “tidak ada satu pun klub yang berminat” perlu diluruskan. Sejumlah laporan menyebut masih ada ketertarikan dari klub Eropa dan Timur Tengah, termasuk pembicaraan yang dikaitkan dengan Al Rayyan dan sebelumnya AS Roma. Masalahnya, belum ada kesepakatan yang benar-benar mengembalikan Sancho ke panggung elite.
Dari Talenta Akademi Manchester City ke Bintang Dortmund
Sancho merupakan produk akademi Watford sebelum pindah ke Manchester City. Namun, ia memilih meninggalkan Inggris pada 2017 karena ingin mendapatkan kesempatan bermain reguler di level senior.
Keputusan bergabung dengan Borussia Dortmund terbukti sangat tepat.
Di Bundesliga, Sancho mendapatkan kepercayaan, kebebasan menyerang, dan lingkungan yang mendukung perkembangan pemain muda. Ia bukan hanya menjadi pemain pelapis, tetapi berkembang menjadi salah satu pusat kreativitas Dortmund.
Dalam periode pertamanya bersama klub Jerman tersebut pada 2017 hingga 2021, Sancho mencatat 137 penampilan di semua kompetisi. Ia menghasilkan 50 gol dan 64 assist, angka yang menunjukkan pengaruh besar dalam permainan Dortmund.
Sancho tampil berani saat menghadapi pemain bertahan. Ia mampu bermain dari kedua sisi sayap, bergerak ke area tengah, menciptakan peluang, dan menyelesaikan serangan.
Kombinasinya bersama pemain seperti Erling Haaland, Marco Reus, dan Achraf Hakimi membuat Dortmund memiliki lini serang yang cepat dan sulit dihentikan.
Performa tersebut juga mengantarkan Sancho masuk Timnas Inggris. Pada saat itu, ia dianggap sebagai salah satu wajah masa depan sepak bola Inggris.
Manchester United Membelinya dengan Harapan Besar
Manchester United sudah lama mengincar Sancho sebelum transfer akhirnya terwujud pada Juli 2021.
Kepindahan itu disambut dengan antusiasme besar. United dinilai mendapatkan pemain muda Inggris yang telah membuktikan kualitasnya di Liga Champions dan Bundesliga.
Sancho tiba di Old Trafford pada usia 21 tahun. Secara teori, ia masih memiliki waktu panjang untuk berkembang dan menjadi pemain utama klub.
Namun, situasi di Manchester berbeda dari Dortmund.
United sedang berada dalam masa transisi. Pergantian pelatih, perubahan sistem permainan, tekanan media, dan ketidakstabilan performa tim membuat Sancho kesulitan menemukan ritme.
Ia tidak lagi mempunyai kebebasan sebesar ketika bermain di Bundesliga. Intensitas Premier League juga menuntut keputusan lebih cepat dan kontribusi defensif yang lebih besar.
Dalam 82 pertandingan awalnya bersama Manchester United, Sancho hanya menghasilkan 12 gol dan enam assist. Angka itu jauh di bawah produktivitas yang pernah ia catat bersama Dortmund.
Tidak Pernah Benar-Benar Menemukan Konsistensi
Sancho beberapa kali menunjukkan kualitasnya bersama United.
Ia mampu mencetak gol penting, memperlihatkan kontrol bola yang baik, dan sesekali menciptakan peluang melalui kombinasi di sisi lapangan.
Namun, penampilan bagus tersebut tidak muncul secara konsisten.
Dalam beberapa pertandingan, Sancho terlihat kurang berani menghadapi bek lawan. Ia lebih sering mengembalikan bola daripada melakukan penetrasi seperti ketika bermain di Dortmund.
Kecepatan permainannya juga dipertanyakan. Sancho sebenarnya bukan pemain yang hanya mengandalkan sprint. Kekuatannya terletak pada perubahan arah, kombinasi pendek, dan kecerdasan mencari ruang.
Masalahnya, United tidak selalu mempunyai struktur yang mampu memaksimalkan karakter tersebut.
Ketika tim membutuhkan serangan balik cepat, Sancho terlihat kurang eksplosif. Saat menghadapi pertahanan rendah, ia juga tidak selalu mendapatkan dukungan pergerakan yang cukup dari rekan-rekannya.
Konflik dengan Erik ten Hag Menjadi Titik Balik
Hubungan Sancho dengan Manchester United semakin memburuk setelah perselisihannya dengan Erik ten Hag pada 2023.
Ten Hag tidak memasukkan Sancho dalam skuad untuk pertandingan melawan Arsenal dan menyebut performanya dalam latihan sebagai alasan.
Sancho kemudian membantah pernyataan tersebut melalui media sosial dan merasa dirinya dijadikan kambing hitam.
Konflik itu membuatnya tersingkir dari tim utama. Sancho berlatih terpisah dan tidak lagi mendapatkan kesempatan bermain sebelum akhirnya dipinjamkan.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik terendah dalam kariernya.
Terlepas dari siapa yang dianggap benar, perselisihan terbuka dengan pelatih membuat posisi Sancho di Old Trafford semakin sulit dipulihkan.
Kembali ke Dortmund dan Menembus Final Liga Champions
Pada Januari 2024, Sancho kembali ke Borussia Dortmund dengan status pinjaman.
Kepulangan tersebut memberikan harapan bahwa ia dapat menghidupkan kembali kariernya di tempat yang pernah membuatnya bersinar.
Dortmund menyambutnya sebagai pemain yang telah memahami klub, kota, suporter, dan gaya permainan mereka. Masa pinjaman itu berlangsung hingga akhir musim 2023/2024.
Sancho memang belum sepenuhnya kembali ke level terbaiknya, tetapi ia menunjukkan beberapa penampilan penting di Liga Champions.
Ia membantu Dortmund mencapai final Liga Champions 2024. Dalam perjalanan tersebut, Sancho memperlihatkan bahwa kemampuan teknik dan keberaniannya belum sepenuhnya hilang.
Namun, Dortmund tidak mempermanenkan transfernya. Faktor biaya, gaji, dan kebutuhan skuad diduga menjadi bagian dari pertimbangan.
Sancho pun kembali ke Manchester United tanpa jaminan masa depan.
Menjuarai Eropa Bersama Chelsea, tetapi Tidak Dipermanenkan
Pada musim 2024/2025, Sancho kembali dipinjamkan, kali ini kepada Chelsea.
Awalnya, kepindahan tersebut terlihat menjanjikan. Ia memberikan assist dalam beberapa pertandingan awal dan tampak cocok dengan permainan berbasis penguasaan bola.
Sancho kemudian ikut membantu Chelsea menjuarai UEFA Conference League. Ia bahkan mencetak gol dalam kemenangan 4-1 atas Real Betis pada pertandingan final.
Secara keseluruhan, Sancho membuat 41 penampilan dan mencetak lima gol selama berada di Stamford Bridge. Namun, Chelsea tetap memilih tidak mempertahankannya secara permanen.
Keputusan itu menjadi pukulan lain bagi kariernya.
Sancho sudah membantu klub memenangkan trofi Eropa dan mencetak gol di final, tetapi kontribusi tersebut belum cukup untuk meyakinkan Chelsea membangun masa depan bersamanya.
Aston Villa Menjadi Kesempatan Berikutnya
Setelah Dortmund dan Chelsea, Aston Villa menjadi klub berikutnya yang memberikan kesempatan kepada Sancho.
Villa meminjamnya dari Manchester United untuk musim 2025/2026. Klub secara resmi memperkenalkan Sancho sebagai pemain yang memiliki pengalaman di level tertinggi dan pernah tampil mengesankan bersama Dortmund.
Namun, masa pinjaman tersebut kembali tidak menghasilkan transfer permanen.
Sancho tidak mampu menjadikan dirinya sebagai pilihan utama yang tidak tergantikan. Ia mendapatkan menit bermain, tetapi kontribusinya belum cukup untuk mendorong Villa mempertahankannya setelah masa pinjaman selesai.
Situasi tersebut memperlihatkan pola yang cukup jelas.
Dortmund, Chelsea, dan Aston Villa sama-sama memberikan kesempatan. Sancho juga sempat mencatat momen positif bersama setiap klub, tetapi tidak satu pun menjadikannya bagian permanen dari proyek jangka panjang.
Manchester United Melepasnya secara Gratis
Kontrak Sancho bersama Manchester United berakhir pada Juni 2026.
Ia akhirnya meninggalkan Old Trafford tanpa biaya transfer, beberapa tahun setelah klub membelinya dengan harga sekitar 85 juta euro.
Dari sudut pandang bisnis, situasi tersebut menjadi kerugian besar bagi United.
Klub tidak hanya kehilangan nilai transfer, tetapi juga mengeluarkan biaya gaji tinggi selama masa kontrak Sancho. Sebagian besar tahun terakhirnya bahkan dihabiskan dengan status pinjaman.
Kepergiannya secara gratis menjadi penutup yang pahit bagi transfer yang sebelumnya diharapkan menjadi simbol kebangkitan Manchester United.
Berlatih di Klub Divisi Sepuluh untuk Menjaga Kebugaran
Setelah meninggalkan Manchester United, Sancho belum langsung mendapatkan klub baru.
Ia diketahui menggunakan fasilitas Flixton FC, klub yang bermain di tingkat kesepuluh sepak bola Inggris, untuk menjaga kebugaran secara pribadi.
Flixton kemudian menjelaskan bahwa Sancho tidak sedang menjalani trial dan tidak berada dalam pembicaraan untuk bergabung dengan klub tersebut. Ia hanya memanfaatkan fasilitas latihan sambil menunggu keputusan mengenai masa depannya.
Namun, pemandangan mantan pemain seharga 85 juta euro berlatih di fasilitas klub non-liga tetap menjadi gambaran kuat mengenai perubahan kariernya.
Hanya beberapa tahun sebelumnya, Sancho bermain di hadapan puluhan ribu penonton dalam pertandingan Liga Champions. Kini, ia berusaha menjaga kondisi sambil menunggu tawaran yang sesuai.
Benarkah Tidak Ada Klub yang Berminat?
Judul “tak ada yang berminat” memang terdengar dramatis, tetapi tidak sepenuhnya akurat.
Sancho masih dikaitkan dengan beberapa klub. Al Rayyan dari Qatar disebut sebagai salah satu kemungkinan tujuan. AS Roma juga pernah dilaporkan tertarik, sementara laporan lain menyatakan pihak Sancho mempunyai sejumlah kesepakatan prinsip dari klub Eropa dan Timur Tengah.
Namun, adanya ketertarikan berbeda dengan tawaran konkret yang diterima pemain.
Sancho kemungkinan menghadapi beberapa persoalan dalam mencari klub baru:
Pertama adalah tuntutan gaji. Ia sebelumnya menerima bayaran besar di Manchester United. Tidak banyak klub yang bersedia menawarkan gaji serupa kepada pemain yang performanya belum stabil.
Kedua adalah ketidakpastian performa. Sancho memiliki teknik dan pengalaman, tetapi klub akan mempertanyakan apakah ia masih mampu tampil konsisten sepanjang musim.
Ketiga adalah kesesuaian sistem. Sancho membutuhkan tim yang mendominasi bola, menyediakan dukungan kombinasi, dan memberikan kebebasan bergerak.
Keempat adalah reputasi profesional. Konflik dengan Ten Hag dan perjalanan pinjaman ke beberapa klub dapat membuat calon peminat mempertimbangkan aspek nonteknis.
Jadi, masalah Sancho bukan sama sekali tidak ada peminat. Masalahnya adalah belum ada klub yang dianggap cocok dan siap memenuhi persyaratan yang dibutuhkan.
Usia 26 Tahun Seharusnya Menjadi Masa Terbaik
Sancho lahir pada 25 Maret 2000. Pada usia 26 tahun, ia seharusnya sedang memasuki masa terbaik sebagai pemain sepak bola.
Ia tidak lagi terlalu muda, tetapi juga belum mendekati akhir karier.
Karena itu, situasinya sekarang terasa semakin ironis.
Banyak pemain pada usia tersebut sudah menjadi tulang punggung klub dan tim nasional. Sementara Sancho masih harus mencari tempat untuk memulai kembali.
Namun, usia 26 tahun juga berarti kesempatan untuk bangkit belum tertutup.
Ia masih memiliki waktu untuk mengembalikan kebugaran, menemukan lingkungan yang tepat, dan membangun kembali reputasinya.
Penurunan Nilai Pasar yang Tajam
Ketika tampil luar biasa bersama Dortmund, Sancho pernah dinilai sebagai salah satu pemain muda termahal di dunia.
Manchester United membayar sekitar 85 juta euro untuk merekrutnya. Namun, nilainya terus menurun setelah beberapa musim yang tidak konsisten.
Pada Juli 2026, nilai pasarnya dilaporkan berada di kisaran 18 juta euro. Angka tersebut sebelumnya turun dari sekitar 25 juta euro pada akhir 2025.
Penurunan itu mencerminkan perubahan persepsi pasar terhadap Sancho.
Klub tidak lagi menilai dirinya berdasarkan potensi besar saat masih berusia 20 tahun. Kini, mereka melihat performa aktual, riwayat peminjaman, tuntutan gaji, dan risiko perekrutan.
Talenta Saja Tidak Cukup
Perjalanan Sancho memperlihatkan bahwa bakat besar tidak selalu menjamin kesuksesan jangka panjang.
Seorang pemain juga membutuhkan lingkungan yang tepat, hubungan baik dengan pelatih, sistem yang sesuai, stabilitas mental, dan kemampuan beradaptasi.
Di Dortmund, hampir seluruh faktor tersebut mendukung Sancho.
Ia bermain secara reguler, mendapat kepercayaan, dikelilingi pemain yang sesuai dengan karakternya, dan tidak menanggung tekanan sebesar di Manchester United.
Di Old Trafford, situasinya jauh lebih rumit. Ekspektasi terhadap harga transfernya sangat tinggi, sedangkan klub terus mengalami perubahan.
Sancho juga harus bertanggung jawab atas performanya sendiri. Pemain dengan kualitas besar tetap dituntut menunjukkan disiplin, konsistensi, dan kemampuan merespons situasi sulit.
Harus Berani Menurunkan Tuntutan
Langkah berikutnya akan sangat menentukan masa depan Sancho.
Apabila ia ingin kembali bermain di klub Eropa, kemungkinan besar ia harus bersedia menerima gaji lebih rendah dan memilih proyek berdasarkan kebutuhan sepak bola, bukan hanya nilai kontrak.
Klub dengan tekanan lebih kecil dapat menjadi pilihan yang baik.
Sancho membutuhkan tempat yang memberinya menit bermain reguler, kepercayaan dari pelatih, dan peran yang jelas. Duduk di bangku cadangan klub besar hanya akan semakin memperlambat pemulihan kariernya.
Kembali ke Bundesliga juga bisa menjadi pilihan, meskipun belum ada kepastian Dortmund atau klub Jerman lain siap merekrutnya.
Pindah ke Qatar atau kawasan lain mungkin memberikan keuntungan finansial, tetapi dapat membuat jalannya kembali ke sepak bola elite Eropa semakin sulit.
Kariernya Belum Berakhir
Situasi Sancho memang mengkhawatirkan, tetapi belum menjadi akhir.
Ia sudah membuktikan pernah menjadi pemain elite. Catatan 50 gol dan 64 assist dalam periode pertamanya di Dortmund tidak bisa muncul hanya karena kebetulan.
Ia juga mencapai final Liga Champions bersama Dortmund, memenangkan Conference League bersama Chelsea, dan mencetak gol pada pertandingan final.
Masalahnya adalah Sancho belum mampu mengubah momen-momen tersebut menjadi konsistensi jangka panjang.
Klub berikutnya harus dipilih dengan sangat hati-hati. Keputusan yang tepat dapat menghidupkan kembali kariernya, sedangkan pilihan yang salah bisa membuatnya semakin jauh dari level tertinggi.
Youtube : https://youtube.com/shorts/asIMG6SQp0E?si=skvokMx9ZE1HPCzs
Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZS49hJvN2/
Sumber
Borussia Dortmund — Catatan 50 gol dan 64 assist Sancho dalam 137 pertandingan:
https://www.bvb.de/de/de/aktuelles/news/news.html/News/Uebersicht/Das-ist-BVB-Rueckkehrer-Jadon-Sancho.html
Aston Villa — Pengumuman peminjaman Jadon Sancho musim 2025/2026:
https://www.avfc.co.uk/news/2025/september/01/villa-confirm-jadon-sancho-loan-signing/
Chelsea — Sancho kembali ke Manchester United setelah masa peminjaman:
https://www.chelseafc.com/en/news/article/club-statement-jadon-sancho
