Presiden FIFA Gianni Infantino sedang menghadapi salah satu tekanan politik terbesar sepanjang masa kepemimpinannya. Perselisihan antara FIFA dan sejumlah konfederasi membesar setelah muncul proposal kontroversial yang membuka jalan bagi investor swasta untuk memiliki kepentingan dalam entitas yang mengelola aspek komersial dan operasional kompetisi FIFA.

Rencana bernama FIFA Forward Enterprise atau FFE tersebut langsung memicu perlawanan keras, terutama dari UEFA. Bahkan, federasi-federasi Eropa mendukung opsi boikot kompetisi FIFA apabila struktur kontroversial itu tetap dipaksakan. CONCACAF dan AFC juga ikut mengkritik cara FIFA menangani proposal tersebut.

Situasi semakin panas setelah proposal FFE akhirnya ditarik. Alih-alih meredakan masalah sepenuhnya, pencabutan rencana tersebut justru membuka persoalan yang lebih besar: krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino.

Apa Itu FIFA Forward Enterprise?

FIFA Forward Enterprise dirancang sebagai sebuah entitas yang akan menggabungkan sebagian fungsi komersial dan operasional kompetisi FIFA.

Rencana tersebut dinilai sangat sensitif karena aset yang dibicarakan bukan bisnis biasa.

FIFA mengendalikan sejumlah kompetisi olahraga paling bernilai di dunia, terutama Piala Dunia putra dan putri. Membuka kepemilikan atau investasi eksternal ke dalam struktur yang mengelola aset tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai siapa yang nantinya memiliki pengaruh terhadap arah bisnis kompetisi FIFA.

Pendukung proposal menilai masuknya modal eksternal dapat menghasilkan dana besar untuk pengembangan sepak bola.

Namun, para pengkritiknya melihat risiko lain.

Mereka mempertanyakan transparansi, tata kelola, kontrol atas hak komersial, hingga kemungkinan kompetisi FIFA semakin diarahkan kepada kepentingan investor.

Inilah yang kemudian membuat FFE berubah dari proposal bisnis menjadi pertarungan politik global.

UEFA Mengambil Sikap Sangat Keras

UEFA menjadi kekuatan paling vokal menolak rencana tersebut.

Eropa memiliki 55 asosiasi anggota, termasuk negara-negara sepak bola besar seperti Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis, Italia, Portugal, dan Belanda.

Menurut laporan yang muncul setelah rapat darurat UEFA, asosiasi-asosiasi tersebut mendukung langkah untuk tidak mengikuti kompetisi FIFA apabila proposal investasi kontroversial terus dipaksakan.

Ancaman tersebut sangat serius.

Piala Dunia tanpa negara-negara Eropa tentu tetap dapat digelar secara teknis, tetapi daya tarik olahraga dan komersialnya akan berubah drastis.

Eropa memiliki banyak tim nasional papan atas dunia, pemain bintang, pasar televisi besar, sponsor, serta basis penonton yang sangat kuat.

Karena itu, ancaman boikot bukan sekadar simbol politik.

Itu merupakan salah satu kartu tekanan terbesar yang bisa digunakan UEFA terhadap FIFA.

Bukan Hanya UEFA yang Melawan

Masalah Infantino semakin berat karena keberatan tidak hanya datang dari Eropa.

UEFA, CONCACAF, dan AFC kemudian mengeluarkan kritik bersama terhadap proses yang terjadi di FIFA.

Dalam surat terbuka, ketiga konfederasi itu menilai persoalan FFE menimbulkan masalah serius terkait kepercayaan dan tata kelola. Mereka juga mempertanyakan bagaimana keputusan sebesar itu dapat diproses tanpa keterlibatan yang lebih luas dari keluarga sepak bola internasional.

Ini merupakan perkembangan penting.

Selama bertahun-tahun, konflik FIFA dan UEFA sering dianggap sebagai pertarungan antara Eropa melawan federasi global.

Namun kali ini kritik juga datang dari CONCACAF dan AFC.

Artinya, ketidakpuasan terhadap cara proposal tersebut ditangani sudah meluas melampaui Eropa.

Meski demikian, hal itu bukan berarti seluruh anggota dari setiap konfederasi otomatis menentang Infantino.

Kekuatan politik FIFA jauh lebih kompleks.

FIFA Akhirnya Mundur

Tekanan terhadap proposal FFE berkembang sangat cepat.

Pada akhirnya, FIFA membatalkan rencana untuk menjual kepentingan dalam entitas yang akan mengelola aspek komersial dan operasional kompetisinya.

Infantino juga mengakui adanya kesalahan dalam bagaimana proposal tersebut ditangani.

Secara teori, menarik proposal seharusnya dapat mengakhiri konflik.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

UEFA menyambut pembatalan tersebut, tetapi menegaskan persoalan yang lebih besar belum selesai.

Bagi UEFA, masalahnya tidak lagi hanya mengenai FFE.

Masalahnya adalah hilangnya kepercayaan terhadap proses pengambilan keputusan di FIFA.

UEFA menyatakan bahwa pekerjaan membangun kembali kepercayaan baru saja dimulai setelah proposal tersebut ditarik.

Ancaman Boikot Belum Sepenuhnya Hilang

Salah satu perkembangan paling penting adalah bahwa ancaman boikot tidak otomatis menghilang setelah FFE dibatalkan.

UEFA masih menginginkan jaminan mengenai tata kelola FIFA dan memastikan rencana serupa tidak muncul kembali melalui bentuk berbeda.

Karena itu, situasinya sekarang berbeda.

Pada awalnya, ancaman boikot digunakan untuk menghentikan proposal FFE.

Setelah proposal dihentikan, tekanan berubah menjadi alat untuk menuntut reformasi dan pemulihan kepercayaan.

Ini jauh lebih sulit bagi Infantino.

Membatalkan satu proposal relatif mudah.

Mengembalikan kepercayaan puluhan federasi dan beberapa konfederasi merupakan pekerjaan politik yang jauh lebih besar.

Mengapa Boikot Eropa Sangat Berbahaya bagi FIFA?

FIFA memiliki 211 asosiasi anggota, sehingga Eropa memang bukan mayoritas.

Namun, kekuatan FIFA tidak hanya diukur berdasarkan jumlah suara.

Sepak bola Eropa memberikan kontribusi luar biasa besar terhadap nilai komersial sepak bola dunia.

Mayoritas pemain bintang dunia bermain di liga-liga Eropa.

Klub-klub dengan basis penggemar global terbesar juga sebagian besar berasal dari benua tersebut.

Turnamen antarnegara seperti Piala Dunia mendapatkan nilai besar karena mempertemukan negara-negara terbaik dari berbagai benua, termasuk kekuatan tradisional Eropa.

Bayangkan Piala Dunia tanpa Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, Italia, Portugal, Belanda, Kroasia, dan negara Eropa lainnya.

Turnamen mungkin tetap berjalan.

Namun nilai olahraga, hak siar, sponsor, tiket, dan daya tarik globalnya berpotensi turun sangat besar.

Karena itu, FIFA tidak dapat dengan mudah mengabaikan UEFA.

Tetapi Infantino Juga Tidak Bisa Dijatuhkan UEFA Sendirian

Di sisi lain, UEFA tidak memiliki kekuasaan absolut.

Presiden FIFA dipilih oleh asosiasi anggota FIFA.

Secara keseluruhan terdapat 211 federasi nasional.

Artinya, dukungan dari Afrika, Asia, Amerika Selatan, Amerika Utara, Amerika Tengah, Karibia, dan Oceania juga sangat menentukan.

Infantino selama bertahun-tahun membangun hubungan kuat dengan banyak federasi di luar Eropa.

Laporan mengenai peta politik FIFA menunjukkan bahwa ia masih mempunyai dukungan signifikan, terutama di sejumlah negara Afrika, Asia, dan kawasan lainnya.

Itulah sebabnya krisis ini tidak otomatis berarti Infantino akan kehilangan jabatan.

UEFA mungkin mempunyai kekuatan ekonomi sangat besar.

Namun dalam pemilihan FIFA, setiap federasi anggota mempunyai suara.

Pertempuran politiknya jauh lebih rumit.

Javier Tebas: Era Infantino Sudah Berakhir

Tekanan kemudian menjadi semakin personal.

Presiden La Liga Javier Tebas, yang memang sudah lama menjadi salah satu pengkritik paling keras FIFA, mengatakan bahwa menurut pandangannya “era Infantino sudah berakhir.”

Tebas menilai persoalan FFE bukan satu-satunya masalah.

Menurutnya, kontroversi tersebut hanyalah bagian dari persoalan tata kelola FIFA yang lebih luas.

Ia menuntut perubahan bukan hanya pada sosok pemimpin, tetapi juga pada cara FIFA mengambil keputusan dan melibatkan liga, klub, pemain, serta pemangku kepentingan lain.

Namun penting dicatat:

Pernyataan Tebas adalah sikap politik dan kritik terhadap Infantino, bukan keputusan resmi FIFA bahwa masa jabatan Infantino berakhir.

Infantino masih menjabat sebagai Presiden FIFA.

FIFA Membela Infantino

Di tengah tekanan tersebut, FIFA tidak tinggal diam.

Organisasi itu membela presidennya dan menyatakan terdapat upaya terkoordinasi untuk merusak reputasi Infantino serta kepemimpinannya. FIFA juga menekankan bahwa kepemimpinan organisasi ditentukan melalui proses demokratis oleh asosiasi anggota.

Respons tersebut menunjukkan bahwa FIFA belum berada dalam posisi ingin mengganti presiden.

Justru sebaliknya.

FIFA berusaha menggambarkan tekanan yang muncul sebagai bagian dari pertarungan politik menjelang proses kepemimpinan berikutnya.

Dengan demikian, konflik kini memiliki dua narasi.

Para pengkritik mengatakan FIFA mengalami krisis kepercayaan akibat tindakan kepemimpinannya sendiri.

FIFA mengatakan sebagian serangan terhadap Infantino merupakan upaya politik untuk melemahkan posisinya.

Konflik Kini Lebih Besar daripada Sekadar FFE

Inilah bagian paling penting dari seluruh persoalan.

Proposal FIFA Forward Enterprise sudah ditarik.

Tetapi krisis belum selesai.

Mengapa?

Karena masalahnya sudah berubah.

Ini tidak lagi hanya tentang apakah investor swasta boleh masuk ke dalam bisnis kompetisi FIFA.

Sekarang perdebatan menyangkut:

bagaimana FIFA mengambil keputusan,

siapa yang dilibatkan,

seberapa transparan proses tersebut,

seberapa besar kekuasaan presiden,

dan apakah konfederasi merasa mempunyai suara dalam menentukan arah sepak bola global.

UEFA, CONCACAF, dan AFC bahkan menggunakan istilah yang sangat keras ketika membahas kerusakan kepercayaan akibat proses tersebut.

Apakah Piala Dunia Benar-Benar Bisa Diboikot?

Secara teori, ya.

Federasi nasional dapat memutuskan tidak mengikuti kompetisi tertentu.

Namun boikot Piala Dunia merupakan langkah ekstrem.

Dampaknya tidak hanya terhadap FIFA.

Pemain bisa kehilangan kesempatan tampil pada turnamen terbesar dalam karier mereka.

Sponsor dapat terdampak.

Pemegang hak siar menghadapi ketidakpastian.

Suporter juga akan menjadi korban.

Itulah sebabnya ancaman boikot lebih masuk akal dibaca sebagai senjata negosiasi politik yang sangat kuat daripada bukti bahwa Eropa pasti akan meninggalkan Piala Dunia.

Namun, semakin lama konflik berlangsung tanpa kompromi, semakin besar risiko ancaman tersebut menjadi nyata.

UEFA sudah menunjukkan bahwa mereka bersedia menggunakan opsi itu untuk memberikan tekanan.

2030 Bisa Menjadi Titik Sensitif

Perselisihan FIFA dan UEFA menjadi semakin menarik karena Piala Dunia 2030 akan mempunyai hubungan sangat besar dengan Eropa.

Spanyol dan Portugal menjadi dua dari tiga tuan rumah utama bersama Maroko.

Artinya, bayangkan jika konflik antara FIFA dan UEFA masih berlangsung hingga periode tersebut.

Secara teoritis akan muncul situasi luar biasa: negara yang menjadi tuan rumah kompetisi FIFA berada di bawah konfederasi yang sedang berselisih dengan FIFA.

Namun skenario seperti itu masih sangat jauh dan belum menjadi kenyataan.

Itulah mengapa kompromi dalam beberapa tahun mendatang akan sangat penting.

Infantino Masih Bisa Selamat dari Krisis

Secara politik, Infantino belum jatuh.

Ia masih memiliki dukungan dari banyak federasi.

FFE sudah ditarik.

Dan FIFA masih secara terbuka membela presidennya.

Jadi, menyatakan “Infantino akan segera lengser” masih terlalu jauh.

Namun tantangannya sekarang bukan sekadar mempertahankan kursi.

Ia harus meyakinkan konfederasi bahwa perubahan besar terhadap aset FIFA tidak akan dilakukan tanpa konsultasi memadai.

Ia juga harus memperbaiki hubungan dengan UEFA.

Jika konflik terus berlanjut, masalah bisa berkembang jauh melampaui FFE.

Krisis yang Berawal dari Keputusan FIFA Sendiri

Inilah yang membuat situasi Infantino begitu sulit.

Krisis tersebut bukan muncul karena kekalahan dalam pemilihan atau karena serangan eksternal semata.

Pemicunya adalah proposal yang datang dari FIFA sendiri.

FFE membuka diskusi mengenai masa depan kepemilikan, pengelolaan, dan komersialisasi aset kompetisi FIFA.

Ketika cara proposal tersebut diproses menimbulkan perlawanan, FIFA akhirnya mundur.

Namun kerusakan politik sudah terjadi.

Sebuah proposal yang seharusnya menjadi strategi bisnis justru berubah menjadi ujian terbesar mengenai siapa yang mempunyai kekuasaan dalam sepak bola dunia.

Youtube : https://youtube.com/shorts/NlNkcJY1RPI?si=Tw7DLxeO1qp9ljn5
Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZS4WxjNWb/

Sumber

Associated Press — UEFA, CONCACAF, dan AFC kritik FIFA serta Infantino:
https://apnews.com/article/b51ac48f03623851e07c8199342913bb

The Guardian — Javier Tebas: “Infantino era is over”:
https://www.theguardian.com/football/2026/aug/09/la-liga-president-javier-tebas-gianni-infantino-fifa-uefa

RTÉ — Kronologi FIFA Forward Enterprise hingga dibatalkan:
https://www.rte.ie/sport/soccer/2026/0801/1586102-how-infantinos-fifa-forward-enterprise-plan-unravelled/

CBS Sports — UEFA dan federasi Eropa mendukung boikot kompetisi FIFA:
https://www.cbssports.com/soccer/news/uefa-boycott-fifa-competitions-world-cup-gianni-infantino-2026/

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *