FIFA kembali mempertimbangkan perubahan besar terhadap format Piala Dunia. Setelah edisi 2026 menjadi turnamen pertama yang menggunakan 48 peserta, federasi sepak bola dunia kini mempelajari kemungkinan menambah jumlah peserta menjadi 64 tim pada Piala Dunia 2030.
Wacana tersebut bukan lagi sekadar rumor. Berdasarkan dokumen yang dilihat Reuters, FIFA telah menugaskan kajian mengenai dampak apabila jumlah peserta Piala Dunia 2030 ditambah dari 48 menjadi 64 negara. Studi tersebut akan menilai konsekuensi dari sisi kompetisi, jadwal, operasional, serta potensi pendapatan.
Namun, sampai sekarang belum ada keputusan bahwa Piala Dunia 2030 benar-benar akan diikuti 64 tim.
FIFA masih berada pada tahap evaluasi.
Jika akhirnya disetujui, Piala Dunia 2030 akan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah sekaligus menghadirkan lonjakan peserta yang sangat cepat setelah format 48 tim baru pertama kali digunakan pada 2026.
Bermula dari Usulan untuk Merayakan 100 Tahun Piala Dunia
Gagasan Piala Dunia 64 tim sebenarnya sudah muncul sejak Maret 2025.
Dalam rapat FIFA Council pada 5 Maret 2025, seorang anggota dewan mengusulkan agar FIFA mempertimbangkan format 64 peserta khusus untuk Piala Dunia 2030 sebagai bagian dari perayaan satu abad turnamen tersebut. FIFA kemudian mengakui usulan tersebut dan menyatakan bahwa ide itu perlu dianalisis lebih jauh.
Sejumlah laporan menyebut ide tersebut pertama kali diajukan oleh Presiden Federasi Sepak Bola Uruguay, Ignacio Alonso.
Usulannya cukup mudah dipahami dari sisi sejarah.
Piala Dunia pertama digelar pada 1930 di Uruguay. Tepat seratus tahun kemudian, turnamen 2030 akan kembali menghadirkan pertandingan di negara tersebut sebagai bagian dari perayaan centenary.
Dorongan untuk memperbesar turnamen kemudian semakin serius. Pada April 2025, CONMEBOL ikut mendukung gagasan edisi khusus 64 tim untuk memperingati satu abad Piala Dunia.
FIFA Kini Memasuki Tahap Kajian yang Lebih Serius
Perkembangan terbaru menunjukkan FIFA tidak hanya membicarakan gagasan tersebut secara informal.
Menurut dokumen yang dilihat Reuters pada akhir Juli 2026, sebuah lembaga independen akan diminta menganalisis kemungkinan ekspansi tersebut. Kajian direncanakan mencakup dampak terhadap kualitas kompetisi, kalender pertandingan, hingga pemasukan dari tiket, sponsor, dan hak siar.
Lembaga yang dipilih dilaporkan mempunyai waktu sekitar empat minggu untuk melakukan kajian dengan target analisis selesai pada 11 September 2026.
Artinya, pembicaraan mengenai 64 peserta kini sudah memasuki tahap yang lebih konkret.
Tetapi hasil penelitian tersebut tetap bukan keputusan final. FIFA nantinya masih harus mempertimbangkan aspek teknis, politik, komersial, serta pendapat konfederasi dan federasi anggotanya.
Piala Dunia 2030 Sudah Sangat Unik Meski Tanpa 64 Tim
Piala Dunia 2030 sebenarnya sudah akan menjadi edisi yang tidak biasa.
FIFA telah menetapkan Maroko, Portugal, dan Spanyol sebagai tuan rumah utama. Sementara Uruguay, Argentina, dan Paraguay masing-masing akan menggelar pertandingan khusus untuk memperingati seratus tahun Piala Dunia.
Dengan demikian, turnamen akan berlangsung di enam negara yang tersebar di tiga benua: Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan.
Argentina, Paraguay, Uruguay, Maroko, Portugal, dan Spanyol juga akan otomatis mendapatkan tempat di Piala Dunia 2030 sebagai negara penyelenggara.
Apabila jumlah peserta dinaikkan menjadi 64, kompleksitas penyelenggaraan otomatis bertambah.
Lebih banyak tim berarti lebih banyak hotel, pusat latihan, perjalanan, petugas pertandingan, keamanan, media, dan kebutuhan transportasi.
Pertanyaan besarnya adalah apakah seluruh keuntungan dari ekspansi tersebut sebanding dengan bertambahnya beban penyelenggaraan.
Berapa Banyak Pertandingan Jika Ada 64 Tim?
FIFA belum mengumumkan format resmi apabila 64 peserta benar-benar disetujui.
Salah satu format paling sederhana secara teori adalah membuat 16 grup yang masing-masing berisi empat tim, kemudian dua tim terbaik dari setiap grup melaju ke babak 32 besar.
Jika skema tersebut digunakan, fase grup akan menghasilkan 96 pertandingan.
Kemudian fase gugur dari 32 besar hingga final membutuhkan 31 pertandingan apabila tidak ada perebutan tempat ketiga.
Artinya, turnamen bisa mencapai sekitar 127 pertandingan, atau 128 jika pertandingan perebutan tempat ketiga dipertahankan.
Sebagai perbandingan, format 48 tim yang digunakan pada Piala Dunia 2026 memakai 12 grup berisi empat negara sebelum dilanjutkan ke babak 32 besar.
Namun, angka 127 atau 128 pertandingan untuk 2030 saat ini masih merupakan simulasi, bukan format resmi FIFA. Kajian yang sedang dilakukan justru dimaksudkan untuk melihat struktur kompetisi mana yang paling realistis apabila ekspansi dilanjutkan.
Lebih Banyak Negara Mendapat Kesempatan
Argumen terbesar pendukung format 64 tim adalah pemerataan kesempatan.
Dengan 64 negara, hampir sepertiga dari 211 anggota FIFA dapat tampil di putaran final.
Negara-negara dari Asia, Afrika, CONCACAF, dan Oceania berpotensi memperoleh tambahan tiket.
Bagi negara yang selama ini sulit menembus Piala Dunia, perubahan tersebut tentu menjadi kabar besar.
Tim yang biasanya tersingkir pada tahap akhir kualifikasi bisa memiliki peluang jauh lebih terbuka.
FIFA juga berulang kali mendorong gagasan bahwa Piala Dunia harus semakin bersifat global. Keberhasilan negara-negara dari berbagai konfederasi dalam edisi 2026 menjadi bagian dari argumentasi pendukung ekspansi.
Dari perspektif pengembangan sepak bola, tampil di Piala Dunia dapat memberikan efek besar.
Federasi mendapatkan eksposur internasional, sponsor, pendapatan, peningkatan minat masyarakat, serta pengalaman kompetitif yang sulit diperoleh melalui pertandingan biasa.
Apakah Indonesia Bisa Diuntungkan?
Untuk Timnas Indonesia, wacana 64 peserta tentu sangat menarik.
Namun, belum ada pembagian slot konfederasi yang ditetapkan karena FIFA bahkan belum memutuskan apakah ekspansi akan dilakukan.
Jika jumlah tim bertambah dari 48 menjadi 64, AFC hampir pasti akan memperjuangkan tambahan tempat untuk negara-negara Asia.
Dalam format Piala Dunia 2026, Asia sudah mendapatkan jatah yang jauh lebih besar dibandingkan era 32 peserta.
Dengan 64 tim, peluang negara seperti Indonesia secara teori dapat semakin terbuka.
Tetapi hal ini belum berarti Indonesia otomatis lebih mudah lolos.
Jumlah slot tambahan harus ditentukan lebih dahulu, kemudian format kualifikasi AFC juga harus disesuaikan.
Karena itu, narasi bahwa Indonesia “pasti diuntungkan” masih terlalu dini.
Kalimat yang lebih tepat adalah:
Jika Piala Dunia 2030 benar-benar diperluas menjadi 64 peserta dan AFC memperoleh tambahan slot, jalan Indonesia menuju putaran final secara teoritis bisa menjadi lebih terbuka.
Risiko Menurunnya Kualitas Pertandingan
Tidak semua pihak menyukai ide 64 tim.
Salah satu kritik paling besar adalah risiko berkurangnya kualitas rata-rata peserta.
Piala Dunia selama puluhan tahun dipandang sebagai kompetisi yang sangat eksklusif. Negara harus melalui proses kualifikasi panjang sebelum mendapatkan hak tampil.
Semakin banyak negara yang masuk, semakin besar kemungkinan muncul pertandingan dengan kesenjangan kualitas yang lebar.
Pendukung ekspansi membantah argumentasi tersebut dengan menunjuk keberhasilan negara-negara nontradisional memberikan kejutan.
Namun, persoalan kualitas tetap menjadi aspek yang perlu dipelajari.
Sebuah kajian akademis terbaru tentang kemungkinan format 64 tim bahkan memperingatkan bahwa memperbesar format grup konvensional dapat meningkatkan jumlah pertandingan yang kurang relevan secara kompetitif dan mengurangi frekuensi pertandingan antara tim-tim terkuat.
Jadi, persoalannya bukan hanya berapa banyak negara yang boleh ikut.
FIFA juga harus menemukan struktur turnamen yang menjaga setiap pertandingan tetap bermakna.
UEFA dan AFC Pernah Menunjukkan Keberatan
Gagasan 64 tim juga menghadapi resistensi dari beberapa pemimpin sepak bola.
Menurut Reuters, pejabat UEFA dan AFC sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran terhadap ekspansi lebih jauh setelah Piala Dunia baru saja bertambah dari 32 menjadi 48 peserta.
Salah satu argumennya adalah FIFA seharusnya memberikan waktu untuk mengevaluasi format 48 tim terlebih dahulu.
Piala Dunia menggunakan 32 peserta sejak 1998 hingga 2022. Format tersebut bertahan selama tujuh edisi.
Kemudian jumlahnya naik menjadi 48 pada 2026.
Jika langsung menjadi 64 hanya empat tahun kemudian, Piala Dunia mengalami dua ekspansi besar dalam waktu sangat singkat.
Hal itu membuat beberapa pihak mempertanyakan apakah perubahan didorong kebutuhan olahraga atau faktor komersial.
Pendapatan FIFA Bisa Meningkat
Aspek finansial jelas menjadi bagian penting kajian.
Lebih banyak tim berarti lebih banyak pertandingan.
Lebih banyak pertandingan berarti potensi penjualan tiket bertambah, inventaris hak siar meningkat, dan sponsor mendapatkan lebih banyak eksposur.
Dokumen yang diberitakan Reuters menyebut kajian FIFA secara khusus akan menilai dampak terhadap ticketing, sponsorship, dan media rights.
Dengan 64 peserta, jumlah pertandingan berpotensi meningkat secara drastis.
Hal tersebut dapat memberikan tambahan pemasukan bagi FIFA dan federasi anggotanya.
Namun, pemasukan juga harus dibandingkan dengan biaya.
Menggelar lebih banyak pertandingan berarti pengeluaran operasional meningkat. Tuan rumah membutuhkan lebih banyak stadion, perjalanan, hotel, tenaga kerja, keamanan, fasilitas latihan, dan infrastruktur.
Karena itu, pendapatan kotor yang lebih besar belum otomatis berarti keuntungan bersih meningkat dalam proporsi yang sama.
Masalah Kalender Semakin Rumit
Kepadatan kalender sepak bola dunia menjadi salah satu persoalan terbesar.
Klub-klub Eropa sudah menghadapi kalender panjang dari liga domestik, kompetisi piala, Liga Champions, Liga Europa, Conference League, hingga turnamen antarklub FIFA.
Pemain internasional kemudian masih harus memperkuat negara mereka dalam kualifikasi dan turnamen besar.
Jika format Piala Dunia 2030 membutuhkan periode lebih panjang, klub bisa kehilangan pemain untuk waktu lebih lama.
Jika FIFA justru mencoba mempertahankan durasi turnamen, jumlah pertandingan per hari harus meningkat dan tuntutan operasional menjadi lebih berat.
FIFA harus mencari keseimbangan antara kepentingan tim nasional dan klub.
Ini menjadi isu sensitif karena kesejahteraan pemain sudah menjadi topik besar dalam perdebatan kalender internasional.
Beban Perjalanan Juga Harus Diperhitungkan
Piala Dunia 2030 mempunyai persoalan unik: turnamen akan melibatkan tiga benua.
Maroko, Portugal, dan Spanyol menjadi pusat kompetisi, sementara Argentina, Paraguay, dan Uruguay menggelar pertandingan perayaan seratus tahun.
FIFA mengatakan tiga pertandingan centenary akan berlangsung di Amerika Selatan.
Bahkan dengan 48 peserta, situasi itu sudah membutuhkan koordinasi perjalanan yang tidak sederhana.
Dengan 64 tim, kemungkinan jumlah kontingen, suporter, media, dan personel meningkat.
Walaupun tidak semua tim akan berpindah antar-benua, operasi turnamen secara keseluruhan menjadi lebih besar.
Dampak lingkungan dari perjalanan internasional juga berpotensi menjadi bagian perdebatan.
64 Tim Bisa Menjadi Format Khusus Satu Kali
Gagasan awal yang muncul pada 2025 adalah menjadikan format 64 tim sebagai edisi khusus untuk merayakan seratus tahun Piala Dunia.
Artinya, apabila diterapkan, FIFA secara teori dapat kembali ke format lain pada Piala Dunia 2034.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa ekspansi turnamen jarang dibatalkan.
Piala Dunia berkembang dari 16 menjadi 24 tim, kemudian 32, dan sekarang 48.
Jika 64 peserta sukses secara komersial pada 2030, akan muncul pertanyaan apakah FIFA benar-benar akan kembali ke 48 tim empat tahun kemudian.
Inilah salah satu alasan keputusan 2030 sangat penting.
Apa yang disebut sebagai perayaan satu kali dapat secara tidak langsung menciptakan standar baru.
Belum Ada Keputusan Final
Hal terpenting adalah membedakan antara kajian dan keputusan.
Saat ini Piala Dunia 2030 masih secara resmi direncanakan berdasarkan format yang sudah berlaku setelah ekspansi menjadi 48 peserta.
FIFA memang sedang mempelajari kemungkinan 64 tim, tetapi belum mengesahkannya.
Belum ada pembagian slot baru.
Belum ada format grup resmi.
Belum ada perubahan resmi terhadap kualifikasi.
Belum ada jumlah pertandingan yang diumumkan.
Karena itu, judul yang menyebut “Piala Dunia 2030 resmi diikuti 64 tim” saat ini tidak benar.
Informasi yang akurat adalah:
FIFA sedang melakukan studi untuk mengetahui apakah Piala Dunia 2030 layak diperluas menjadi 64 peserta.
Youtube : https://youtube.com/shorts/e06gvz7E8wA?si=W1Rfe6h4YBFXmD4r
Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZS4XkuWyJ/
Sumber dan Link Langsung
Reuters — FIFA mempelajari dampak perluasan Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim:
https://sports.yahoo.com/articles/fifa-studying-impact-expanding-men-141243889.html
Reuters — Detail kajian kompetisi, jadwal, dan pendapatan:
https://www.gulf-times.com/article/730245/sport/football/fifa-studying-impact-of-expanding-world-cup-to-64-teams-for-2030-edition
FIFA — Informasi resmi tuan rumah Piala Dunia 2030:
https://inside.fifa.com/tournament-organisation/world-cup-2030
FIFA — Enam negara yang terlibat dalam Piala Dunia 2030:
https://www.fifa.com/en/tournaments/mens/worldcup/articles/world-cup-2030-hosts-qualified-bidding-spain-argentina-morocco-uruguay-portugal-paraguay
