Sepak bola Afrika sedang memasuki periode yang semakin menjanjikan.
Bintang Manchester City dan Timnas Ghana, Antoine Semenyo, percaya performa negara-negara Afrika di Piala Dunia 2026 bukan sekadar kejutan sesaat. Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa negara-negara dari benua Afrika kini semakin mampu bersaing dengan kekuatan tradisional sepak bola dunia.
Dalam wawancara dengan CNN Sports ketika mengikuti tur pramusim Manchester City di Hong Kong Football Festival, Semenyo menyoroti keberhasilan negara-negara Afrika sepanjang Piala Dunia 2026.
Pesannya cukup jelas.
Dunia harus mulai terbiasa melihat tim-tim Afrika tampil jauh di turnamen besar.
Semenyo: Sepak Bola Afrika Sedang Berkembang
Semenyo melihat Piala Dunia 2026 sebagai salah satu bukti terbesar perkembangan sepak bola Afrika.
Ia mengatakan bahwa penampilan negara-negara Afrika menunjukkan bagaimana level permainan di benua tersebut terus meningkat.
“It shows African football is evolving.”
Semenyo kemudian menambahkan bahwa performa tersebut menunjukkan kepada dunia bahwa negara-negara Afrika sudah mampu bersaing di level tertinggi.
Pernyataan itu bukan sekadar optimisme tanpa dasar.
FIFA mencatat Afrika mengirim 10 wakil ke Piala Dunia 2026, jumlah terbesar sepanjang sejarah turnamen. Bahkan lebih mengejutkan lagi, sembilan dari sepuluh tim Afrika berhasil lolos ke fase gugur.
Sebelum Piala Dunia 2026, negara-negara Afrika secara keseluruhan hanya mencatat 37 kemenangan sepanjang sejarah turnamen.
Di edisi 2026 saja, mereka menambah 11 kemenangan.
Angka tersebut menunjukkan perubahan yang sangat signifikan.
Cape Verde Jadi Simbol Kebangkitan
Salah satu tim yang paling mencuri perhatian adalah Cape Verde atau Cabo Verde.
Negara kepulauan kecil tersebut menjalani debut luar biasa di Piala Dunia.
Mereka tidak hanya berhasil lolos dari fase grup, tetapi juga memaksa juara bertahan Argentina bekerja sangat keras di babak 32 besar.
Pertandingan itu akhirnya dimenangkan Argentina 3-2 setelah perpanjangan waktu.
Banyak orang menganggap pencapaian Cape Verde sebagai kejutan besar.
Tetapi Semenyo tidak terlalu terkejut.
Ia pernah menghadapi Cape Verde bersama Ghana di Piala Afrika dan mengaku sudah mengetahui kualitas mereka sejak saat itu.
Semenyo mengatakan setelah pertandingan tersebut ia berpikir Cape Verde merupakan salah satu tim Afrika terbaik yang pernah dihadapinya.
Menurutnya, kualitas Cape Verde mungkin baru sekarang mendapat perhatian dunia, tetapi pemain-pemain Afrika sudah mengetahui betapa berbahayanya mereka.
Cape Verde Hampir Menyingkirkan Argentina
Perjalanan Cape Verde menjadi salah satu simbol paling kuat dari perkembangan sepak bola Afrika.
Mereka berhasil membawa Argentina sampai perpanjangan waktu di babak 32 besar.
Argentina akhirnya menang 3-2, tetapi Cape Verde meninggalkan turnamen dengan reputasi yang jauh lebih besar dibanding ketika mereka datang.
Bahkan gol Sidny Lopes Cabral dalam pertandingan tersebut kemudian terpilih sebagai Hyundai Goal of the Tournament Piala Dunia 2026.
Bagi negara dengan populasi yang jauh lebih kecil dibanding raksasa sepak bola dunia, pencapaian tersebut sangat signifikan.
Cape Verde membuktikan bahwa ukuran negara tidak selalu menentukan kemampuan bersaing di panggung terbesar.
Sembilan dari Sepuluh Wakil Afrika Lolos
Cape Verde bukan satu-satunya cerita sukses.
Menurut catatan resmi FIFA, sembilan dari sepuluh wakil Afrika mencapai babak 32 besar.
Itu berarti hampir seluruh wakil benua tersebut berhasil melewati fase grup.
Pencapaian ini sangat berbeda dibanding era ketika sekadar lolos ke fase gugur sudah dianggap prestasi besar bagi sebagian besar tim Afrika.
Sekarang standar mulai berubah.
Afrika bukan lagi sekadar peserta.
Mereka mulai menjadi ancaman nyata.
Morocco Kembali Melangkah Jauh
Maroko sekali lagi menjadi tim Afrika dengan perjalanan paling jauh.
Setelah mencetak sejarah dengan mencapai semifinal Piala Dunia 2022, Atlas Lions kembali tampil impresif pada 2026.
Mereka lolos hingga perempat final sebelum akhirnya dihentikan Prancis dengan skor 0-2.
Dalam perjalanan menuju perempat final, Maroko sempat menahan Brasil 1-1, mengalahkan Skotlandia, menyingkirkan Belanda melalui adu penalti, lalu menghancurkan Kanada 3-0 di babak 16 besar.
Pencapaian tersebut memperkuat argumentasi bahwa semifinal Maroko pada 2022 bukan kebetulan.
Empat tahun kemudian, mereka kembali menjadi salah satu tim terbaik di turnamen.
Ghana Juga Berhasil Lolos
Semenyo sendiri merasakan langsung perkembangan Afrika melalui Timnas Ghana.
Black Stars berhasil mencapai babak 32 besar.
Ghana membuka turnamen dengan kemenangan 1-0 atas Panama, kemudian mencatat salah satu hasil paling menarik fase grup ketika menahan Inggris 0-0.
Ghana kemudian kalah 1-2 dari Kroasia tetapi tetap berhasil lolos ke fase gugur.
Perjalanan mereka akhirnya dihentikan Kolombia dengan skor 0-1 di babak 32 besar.
Semenyo memainkan peran penting sepanjang turnamen.
CNN melaporkan pemain berusia 26 tahun itu memainkan setiap menit perjalanan Ghana di Piala Dunia 2026.
Hasil Imbang Melawan Inggris Jadi Bukti
Pertandingan melawan Inggris menjadi salah satu hasil paling berkesan bagi Ghana.
Inggris mendominasi dan mencatat 19 tembakan berbanding hanya dua milik Ghana, tetapi Black Stars mampu mempertahankan skor 0-0.
Bagi Semenyo, pertandingan seperti itulah yang menunjukkan semakin kecilnya kesenjangan.
Tim Afrika sekarang memiliki lebih banyak pemain yang terbiasa menghadapi tekanan di liga-liga elite Eropa.
Ketika mereka kembali ke tim nasional, pengalaman tersebut ikut meningkatkan standar permainan.
Perbedaan nama besar tidak lagi otomatis berarti perbedaan kualitas yang sangat jauh.
Piala Dunia 2026 Memang Memberikan Kesempatan Lebih Besar
Salah satu faktor yang membantu adalah perubahan format Piala Dunia.
Edisi 2026 menjadi turnamen pertama dengan 48 peserta.
Afrika mendapatkan jatah lebih besar dan akhirnya mengirim 10 negara ke turnamen.
Namun perlu dicatat, tambahan kuota saja tidak cukup menjelaskan keberhasilan mereka.
Lebih banyak tim memang mendapat kesempatan tampil.
Tetapi sembilan dari sepuluh negara kemudian berhasil mencapai fase gugur.
Artinya, mereka bukan sekadar mendapatkan tiket tambahan.
Mereka juga mampu memanfaatkan kesempatan tersebut.
Afrika Kini Punya Lebih Banyak Pemain Elite
Perubahan lain yang sangat besar terlihat pada level pemain.
Negara-negara Afrika sekarang mempunyai semakin banyak pemain yang menjadi figur penting di Premier League, La Liga, Serie A, Bundesliga, Ligue 1, dan kompetisi Eropa lainnya.
Mereka berlatih setiap hari dengan sistem profesional kelas dunia.
Mereka juga terbiasa bermain di Liga Champions dan kompetisi internasional.
Ketika pemain-pemain tersebut berkumpul bersama tim nasional, kualitas tim Afrika otomatis meningkat.
Semenyo merupakan salah satu contoh paling jelas.
Ia bukan sekadar pemain Ghana.
Ia sekarang bermain untuk salah satu klub terbesar dunia: Manchester City.
Perjalanan Semenyo Tidak Mudah
Karier Semenyo sendiri sangat menarik karena ia tidak tumbuh melalui jalur superstar yang mulus.
Ia lahir di London dan mengalami beberapa penolakan pada masa muda.
Manchester City mencatat Semenyo harus bekerja keras sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan profesional bersama Bristol City pada usia 17 tahun.
Perjalanannya kemudian bahkan membawanya bermain di sepak bola non-liga.
Semenyo akhirnya menjadi salah satu dari sedikit pemain yang pernah merasakan sepak bola non-liga, seluruh empat divisi profesional Inggris, hingga akhirnya tampil di Liga Champions.
Karier seperti itu menunjukkan betapa jauhnya perjalanan yang telah ia tempuh.
Dari Bristol City ke Bournemouth
Semenyo perlahan membangun reputasinya bersama Bristol City.
Pada Januari 2023, Bournemouth kemudian merekrutnya.
Di Bournemouth, perkembangan Semenyo semakin cepat.
Ia mencetak delapan gol dan tiga assist di Premier League 2023/24.
Musim berikutnya, jumlah gol liganya meningkat menjadi 11.
Lalu pada paruh pertama musim 2025/26, Semenyo tampil luar biasa.
Ia mencetak 10 gol Premier League hanya dalam setengah musim sebelum Manchester City datang merekrutnya.
Manchester City Membawanya ke Level Berikutnya
Manchester City resmi merekrut Semenyo dari Bournemouth pada Januari 2026.
Pemain Ghana tersebut menandatangani kontrak berdurasi lima setengah tahun hingga musim panas 2031.
Keputusan City merekrutnya memperlihatkan betapa cepat status Semenyo berubah.
Dari pemain yang pernah mengalami penolakan dan bermain di level non-liga, ia kini menjadi bagian dari salah satu tim terbesar Eropa.
Dan adaptasinya berlangsung cepat.
Langsung Cetak Gol di City
Semenyo tidak membutuhkan waktu lama untuk memberi dampak.
Pada leg pertama semifinal Carabao Cup melawan Newcastle United, ia mencetak gol pembuka ketika Manchester City menang 2-0 di St James’ Park.
Rayan Cherki kemudian mencetak gol kedua pada menit tambahan.
Semenyo bahkan sempat mencetak gol kedua dalam pertandingan tersebut sebelum dianulir VAR.
Setelah laga, ia mengaku menikmati lingkungan di Manchester City dan merasa para pemain langsung membantunya beradaptasi.
Pecahkan Rekor Pemain Ghana di Premier League
Musim 2025/26 akhirnya menjadi musim yang sangat spesial bagi Semenyo.
Ia mencetak 17 gol Premier League secara keseluruhan, terdiri dari 10 bersama Bournemouth dan tujuh setelah pindah ke Manchester City.
CNN melaporkan angka tersebut membuat Semenyo memecahkan rekor lama legenda Ghana Tony Yeboah untuk jumlah gol terbanyak pemain Ghana dalam satu musim Premier League.
Rekor itu semakin bermakna karena Yeboah merupakan salah satu idola masa kecil Semenyo.
Ia juga menyebut nama Asamoah Gyan dan Didier Drogba sebagai beberapa pemain Afrika yang menginspirasinya.
Semenyo Tetap Sangat Dekat dengan Ghana
Walaupun lahir dan besar di Inggris, hubungan Semenyo dengan Ghana sangat kuat.
Ia berasal dari keluarga Ghana.
Ibunya, Dela Efua Dzebu, bahkan ikut terlibat dalam program Ghana Football Association yang membangun jalur bagi pemain-pemain berdarah Ghana yang lahir di Inggris.
Semenyo sendiri menggambarkan membela Ghana sebagai sesuatu yang sangat berarti.
Dalam wawancara CNN, ia mengatakan kekuatan, kecepatan, kegembiraan, dan cinta dari masyarakat Ghana menjadi bagian dari identitasnya sebagai pemain.
Karena itu, ketika berbicara mengenai perkembangan sepak bola Afrika, komentarnya bukan datang dari pengamat luar.
Ia merupakan bagian langsung dari generasi tersebut.
Generasi Baru Afrika Berbeda
Apa yang membedakan generasi sekarang?
Salah satunya adalah kedalaman.
Afrika tidak hanya memiliki satu atau dua negara dengan pemain kelas dunia.
Maroko mempunyai skuad yang sebagian besar berkarier di Eropa.
Senegal terus menghasilkan pemain elite.
Ghana mempunyai talenta seperti Semenyo.
Nigeria, Pantai Gading, Kamerun, Mesir, Afrika Selatan, Aljazair, dan berbagai negara lain juga memiliki pemain yang tersebar di liga-liga besar.
Bahkan negara lebih kecil seperti Cape Verde kini mampu membangun tim yang sangat kompetitif.
Itulah yang membuat kebangkitan Afrika berbeda dibanding sebelumnya.
Bukan Lagi Hanya Tentang Individu
Afrika sejak lama menghasilkan superstar.
George Weah, Samuel Eto’o, Didier Drogba, Yaya Touré, Mohamed Salah, Sadio Mané, Riyad Mahrez, dan banyak nama lain membuktikan kualitas individu pemain Afrika.
Masalahnya, keberhasilan individu belum selalu menghasilkan konsistensi tim nasional di Piala Dunia.
Sekarang situasinya mulai berubah.
Maroko membuktikan organisasi tim Afrika dapat membawa mereka ke semifinal.
Piala Dunia 2026 kemudian menunjukkan banyak negara lain mulai mengikuti.
Sembilan dari sepuluh wakil lolos dari fase grup bukan lagi soal satu superstar.
Itu menunjukkan peningkatan kualitas tim secara kolektif.
Apakah Afrika Bisa Juara Piala Dunia?
Pertanyaan berikutnya tentu lebih besar.
Bisakah negara Afrika akhirnya menjadi juara dunia?
Belum ada yang mampu melakukannya.
Maroko menjadi negara Afrika pertama yang mencapai semifinal pada 2022.
Pada 2026, mereka mencapai perempat final.
Namun semakin banyak negara Afrika mampu melaju ke fase gugur berarti probabilitas salah satu dari mereka akhirnya membuat terobosan semakin besar.
Semenyo tidak mengatakan gelar juara pasti datang segera.
Tetapi ia percaya arah perkembangannya sudah jelas.
Afrika semakin dekat.
Pekerjaan Besar Masih Menunggu
Optimisme tidak berarti tidak ada masalah.
Sepak bola Afrika masih menghadapi berbagai tantangan.
Infrastruktur di sejumlah negara belum merata.
Kualitas liga domestik berbeda jauh antara satu negara dan negara lain.
Masalah federasi, pembinaan usia muda, pendanaan, perjalanan internasional, dan administrasi juga masih menjadi persoalan di beberapa kawasan.
Namun perkembangan pemain menunjukkan potensi yang sangat besar.
Jika kualitas organisasi dapat mengikuti kualitas pemain, Afrika bisa menjadi jauh lebih kuat.
Piala Dunia 2026 Bisa Jadi Titik Balik
Sejarah sepak bola sering memiliki turnamen yang menjadi titik perubahan persepsi.
Piala Dunia 2022 menunjukkan bahwa negara Afrika bisa mencapai semifinal.
Piala Dunia 2026 memperlihatkan bahwa keberhasilan itu tidak hanya dimiliki Maroko.
Sembilan negara Afrika mencapai fase gugur.
Cape Verde hampir menyingkirkan Argentina.
Morocco mencapai perempat final.
Ghana menahan Inggris.
Afrika mengumpulkan 11 kemenangan hanya dalam satu edisi turnamen.
Semua itu membuat pesan Semenyo semakin relevan.
Sepak bola Afrika bukan sedang menunggu masa depan.
Perubahan tersebut sudah berlangsung sekarang.
Youtube : https://youtube.com/shorts/lY-N46yNNHI?si=51xcQIu-tgQKXZ3O
Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSV8HjmUS/
Sumber
CNN Sports melalui KTVZ — Wawancara Antoine Semenyo mengenai kebangkitan sepak bola Afrika:
https://ktvz.com/sports/cnn-sports/2026/08/14/get-ready-for-africas-soccer-breakout-says-manchester-city-star-antoine-semenyo/
FIFA — Rekor negara-negara Afrika di Piala Dunia 2026:
https://www.fifa.com/en/tournaments/mens/worldcup/canadamexicousa2026/articles/africa-world-cup-2026-impact
FIFA — Hasil fase gugur Piala Dunia 2026:
https://www.fifa.com/en/tournaments/mens/worldcup/canadamexicousa2026/articles/knockout-stage-match-schedule-bracket
