Dunia sepak bola berduka. Legenda AC Milan dan Timnas Italia, Franco Baresi, meninggal dunia pada usia 66 tahun. Kabar duka tersebut diumumkan langsung oleh AC Milan pada 31 Juli 2026 dan kemudian dikonfirmasi oleh FIFA serta sejumlah media internasional.

Kepergian Baresi meninggalkan kehilangan besar, terutama bagi keluarga besar Rossoneri. Ia bukan sekadar mantan pemain AC Milan, melainkan salah satu simbol terbesar dalam sejarah klub.

Seluruh karier profesional Baresi dihabiskan bersama Milan. Selama sekitar dua dekade, ia melewati berbagai era, mulai dari masa sulit ketika klub terdegradasi hingga periode kejayaan ketika Rossoneri menjadi salah satu tim terkuat di Eropa.

AC Milan mengenangnya sebagai sosok yang mewakili sejarah, identitas, loyalitas, dan jiwa klub. Dalam penghormatan resminya, Milan menyebut Baresi sebagai Rossonero of the Century dan menegaskan bahwa warisannya akan tetap hidup bersama klub.

Satu Klub Sepanjang Karier

Franco Baresi merupakan contoh langka dari seorang pemain yang mengabdikan seluruh karier profesionalnya kepada satu klub.

Ia bergabung dengan struktur AC Milan ketika masih muda dan melakukan debut senior pada akhir 1970-an. Setelah itu, Baresi tidak pernah meninggalkan Rossoneri hingga pensiun pada 1997.

Selama hampir 20 tahun, ia mengalami berbagai fase dalam sejarah Milan.

Baresi tetap bersama klub bahkan ketika Milan mengalami masa sulit dan harus bermain di Serie B. Ketika klub kembali bangkit, ia kemudian menjadi salah satu fondasi dari tim yang mendominasi Italia dan Eropa.

Loyalitas inilah yang membuat kedudukannya berbeda.

Baresi bukan pemain yang hanya hadir ketika Milan sedang berjaya. Ia bertahan ketika klub mengalami kesulitan, kemudian ikut membawa mereka kembali menuju puncak.

Kapten yang Menjadi Simbol Milan

Baresi bukan hanya seorang bek hebat.

Ia menjadi kapten AC Milan selama bertahun-tahun dan dikenal sebagai pemimpin yang tidak membutuhkan banyak kata.

Cara bermainnya sudah cukup menjadi contoh bagi pemain lain.

Baresi mampu membaca arah serangan sebelum lawan benar-benar melakukan operan. Ia terkenal dengan kemampuan mengambil posisi, mengatur garis pertahanan, melakukan intersep, dan memulai serangan dari belakang.

Pada masa ketika bek tengah sering diidentikkan dengan kekuatan fisik, Baresi memperlihatkan bahwa kecerdasan dan kemampuan membaca permainan dapat menjadi senjata yang sama pentingnya.

AC Milan mengenang gaya bermainnya sebagai kombinasi antara ketenangan, kewibawaan, dan kemampuan membawa bola keluar dari pertahanan.

Enam Scudetto dan Tiga Gelar Eropa

Karier Baresi di Milan dihiasi banyak trofi.

Ia memenangkan enam gelar Serie A bersama Rossoneri.

Di level Eropa, ia menjadi bagian dari generasi Milan yang memenangkan tiga Piala Eropa/Liga Champions, termasuk kemenangan bersejarah atas Steaua Bucharest di final 1989.

Pada pertandingan tersebut, Milan menang 4-0 dan Baresi menjadi salah satu pusat organisasi pertahanan tim. Klub kemudian kembali menjadi juara Eropa pada 1990 dan 1994.

Baresi bermain dalam sebuah generasi luar biasa.

Ia berbagi lini belakang dengan nama seperti Paolo Maldini, Alessandro Costacurta, dan Mauro Tassotti.

Di depan mereka terdapat pemain seperti Carlo Ancelotti, Frank Rijkaard, Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Roberto Donadoni.

Tim tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu skuad terhebat dalam sejarah sepak bola Eropa.

Nomor 6 Dipensiunkan AC Milan

Begitu besarnya pengaruh Baresi membuat AC Milan mengambil keputusan khusus setelah dirinya pensiun.

Nomor punggung 6 tidak lagi digunakan sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

Tindakan tersebut sangat jarang dilakukan klub-klub Italia dan menunjukkan betapa penting posisi Baresi dalam sejarah Rossoneri.

Hingga sekarang, nomor enam tetap identik dengan dirinya.

Bagi pendukung Milan, nomor itu bukan sekadar angka. Nomor enam mewakili kepemimpinan, loyalitas, dan salah satu periode paling sukses dalam sejarah klub.

Juara Dunia bersama Italia

Prestasi Baresi tidak hanya terjadi di level klub.

Ia juga menjadi bagian dari Timnas Italia yang memenangkan Piala Dunia 1982 di Spanyol.

Namun, berbeda dari narasi yang sering muncul, Baresi tidak menjadi pemain utama pada turnamen tersebut. Ia berada dalam skuad juara tetapi tidak tampil dalam pertandingan.

Perannya bersama Italia kemudian berkembang besar pada tahun-tahun berikutnya.

FIFA mencatat Baresi mengakhiri karier internasional dengan 81 penampilan, bukan 82 seperti yang sering tertulis dalam sejumlah artikel.

Ia menjadi salah satu pemain penting Italia di Piala Dunia 1990 dan kemudian dipercaya menjadi kapten pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Final Piala Dunia 1994 Menjadi Salah Satu Momen Terbesar

Piala Dunia 1994 menghasilkan salah satu kisah paling terkenal dalam karier Baresi.

Ia mengalami cedera lutut pada fase awal turnamen dan harus menjalani operasi.

Banyak yang mengira Piala Dunia Baresi sudah selesai.

Namun, secara mengejutkan ia pulih dan kembali bermain pada pertandingan final menghadapi Brasil.

Baresi tampil selama 120 menit dan memperlihatkan performa luar biasa dalam menjaga lini belakang Italia. Pertandingan berakhir 0-0 dan harus ditentukan melalui adu penalti.

Baresi kemudian menjadi salah satu pemain Italia yang gagal mengeksekusi penalti. Brasil akhirnya menjadi juara.

Walaupun kegagalan penalti tersebut menjadi salah satu gambar paling terkenal dari final 1994, performa Baresi sepanjang pertandingan justru semakin memperkuat reputasinya.

Pada usia 34 tahun dan baru pulih dari operasi lutut, ia tetap mampu menghadapi salah satu lini serang terbaik dunia.

Salah Satu Bek Terbaik Sepanjang Masa

Sulit membicarakan sejarah pemain bertahan tanpa memasukkan nama Franco Baresi.

Ia tidak memiliki postur sebesar banyak bek tengah modern, tetapi kemampuan membaca permainan membuat kelemahan fisik tersebut hampir tidak terasa.

Baresi sangat cepat dalam membaca situasi.

Ia mengetahui kapan harus maju melakukan intersep dan kapan harus mundur mempertahankan ruang.

Kemampuannya mengatur garis offside juga menjadi salah satu ciri utama Milan pada era Arrigo Sacchi.

Ketika tim bermain dengan garis pertahanan tinggi, Baresi menjadi pemain yang memberikan komando kepada rekan-rekannya.

Sistem tersebut membutuhkan koordinasi hampir sempurna. Satu pemain terlambat bergerak saja dapat membuka ruang besar bagi lawan.

Namun, Milan mampu menjalankannya karena mempunyai pemain dengan kecerdasan taktik luar biasa seperti Baresi.

Hampir Memenangkan Ballon d’Or

Statusnya sebagai bek tidak menghalangi Baresi mendapatkan pengakuan individu.

Ia finis sebagai runner-up Ballon d’Or pada 1989.

Pencapaian tersebut sangat istimewa karena penghargaan individual sepak bola lebih sering didominasi penyerang atau gelandang.

Pada era yang dipenuhi bintang seperti Marco van Basten, Ruud Gullit, Diego Maradona, dan Lothar Matthäus, seorang bek mampu berada sangat dekat dengan penghargaan pemain terbaik dunia.

Hal tersebut memperlihatkan betapa tinggi penilaian terhadap kualitas Baresi.

Tetap Dekat dengan AC Milan Setelah Pensiun

Hubungan Baresi dengan Milan tidak berakhir ketika dirinya berhenti bermain.

Ia tetap terlibat dalam berbagai peran di klub dan menjadi figur penting dalam menjaga hubungan antara generasi lama dan baru.

Baresi sering terlihat dalam kegiatan resmi Milan, pertandingan legenda, kegiatan komunitas, hingga acara internasional.

Penampilan publik terakhirnya terjadi beberapa bulan sebelum wafatnya, ketika ia tampil di San Siro dalam rangka pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026.

AC Milan mengenang momen tersebut sebagai salah satu penampilan terakhir sang legenda di stadion yang menjadi rumahnya selama puluhan tahun.

AC Milan Berduka

Pengumuman Milan mengenai wafatnya Baresi disampaikan dengan penghormatan sangat emosional.

Klub menggambarkan kehilangannya bukan hanya sebagai kehilangan mantan pemain, tetapi seolah kehilangan sebagian dari identitas Milan sendiri.

Baresi adalah salah satu figur yang membantu membentuk cara dunia memandang Rossoneri.

Bagi generasi lama, ia merupakan kapten dari era kejayaan.

Bagi pemain yang lebih muda, ia menjadi standar tentang bagaimana seorang pemain seharusnya memperlakukan klub dan profesinya.

Dan bagi suporter, Baresi merupakan simbol bahwa loyalitas dalam sepak bola masih memiliki nilai.

Dunia Sepak Bola Memberikan Penghormatan

Kabar meninggalnya Baresi memunculkan penghormatan dari berbagai penjuru dunia.

Mantan pemain, klub, federasi, serta tokoh sepak bola mengenang perjalanan kariernya.

FIFA menyebut Baresi sebagai salah satu bek terbesar dalam sejarah dan menyoroti kecerdasan taktik serta kepemimpinannya bersama Italia dan Milan.

Ribuan suporter kemudian memberikan penghormatan dalam rangkaian pemakaman di Milan.

Upacara perpisahan digelar di Basilica di Sant’Ambrogio. Sejumlah tokoh besar sepak bola seperti Paolo Maldini, Marco van Basten, Roberto Baggio, Clarence Seedorf, Alessandro Costacurta, Dida, dan Fabio Capello hadir memberikan penghormatan terakhir.

Jersey dan syal bernomor enam terlihat di antara para pendukung yang memadati jalanan.

Penyebab Kematian Tidak Diumumkan Secara Resmi

Ada satu hal yang perlu disampaikan dengan hati-hati.

AC Milan mengonfirmasi wafatnya Baresi pada 31 Juli 2026, tetapi tidak menjelaskan secara resmi penyebab kematiannya.

Laporan Associated Press juga menyebut penyebab kematian tidak diberikan dalam pengumuman klub.

Beberapa pemberitaan berikutnya menyebut Baresi sebelumnya mengalami masalah kesehatan, tetapi selama tidak ada konfirmasi resmi dari keluarga atau klub, sebaiknya penyebab kematiannya tidak dinyatakan secara pasti.

Warisan yang Lebih Besar daripada Trofi

Warisan Baresi tidak bisa diukur hanya berdasarkan jumlah Scudetto atau Piala Eropa.

Ia menjadi representasi sebuah tipe pemain yang semakin jarang ditemukan.

Seorang pemain yang bertahan bersama satu klub sepanjang karier.

Seorang kapten yang tetap bersama tim ketika mengalami masa sulit.

Seorang bek yang membuktikan bahwa pertahanan bukan hanya mengenai tekel dan kekuatan fisik.

Dan seorang legenda yang terus menjadi bagian dari identitas klub puluhan tahun setelah pertandingan terakhirnya.

Baresi membantu mengubah pandangan terhadap posisi libero dan bek tengah.

Ia memperlihatkan bahwa pemain bertahan dapat menjadi otak permainan.

Kemampuannya membaca pertandingan kemudian menjadi referensi bagi generasi setelahnya, termasuk bek-bek besar Italia seperti Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Fabio Cannavaro, dan banyak lainnya.

Sang Nomor 6 Akan Selalu Menjadi Bagian dari Milan

Franco Baresi meninggal pada usia 66 tahun.

Namun, warisannya akan terus hidup di San Siro.

Nomor enam yang dipensiunkan Milan memastikan namanya akan terus melekat pada sejarah klub.

Trofi-trofi yang ia menangkan tetap berada di museum klub.

Rekaman pertandingannya akan terus diperlihatkan kepada generasi baru.

Dan setiap kali pembicaraan mengenai bek terbaik dalam sejarah sepak bola muncul, nama Franco Baresi hampir pasti kembali disebut.

AC Milan kehilangan seorang legenda.

Italia kehilangan salah satu kapten terbesarnya.

Sepak bola kehilangan salah satu bek terbaik yang pernah memainkan permainan ini.

Youtube : https://youtube.com/shorts/3ZajtEjXvvs?si=If-DPmpEi-mBFHkz
Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZS4sXvM9n/

Sumber

AC Milan — Pengumuman resmi wafatnya Franco Baresi:
https://www.acmilan.com/en/news/articles/club/2026-07-31/franco-baresi-forever

FIFA — Franco Baresi meninggal dunia di usia 66 tahun:
https://www.fifa.com/en/news/articles/franco-baresi-italy-obituary

AC Milan — Penghormatan terhadap perjalanan dan sejarah Baresi:
https://www.acmilan.com/en/news/articles/club/2026-08-03/the-story-of-ac-milan-embodied-in-his-face

Associated Press — AC Milan mengumumkan wafatnya Baresi:
https://wtop.com/sports/2026/07/ac-milan-defender-franco-baresi-dies-at-66/

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *