Era baru resmi dimulai di Timnas Prancis.
Federasi Sepak Bola Prancis atau FFF secara resmi menunjuk Zinedine Zidane sebagai pelatih baru Les Bleus pada Selasa, 28 Juli 2026. Pengumuman dilakukan setelah rapat Komite Eksekutif FFF, kemudian Zidane diperkenalkan kepada media oleh Presiden FFF, Philippe Diallo, di markas federasi di Paris.
Zidane mendapatkan kontrak selama empat tahun sampai Piala Dunia 2030. Ia akan mulai menjalankan tugas secara resmi pada 1 Agustus 2026 dan menjadi pelatih ke-18 dalam sejarah Timnas Prancis sejak 1964.
Penunjukan tersebut menjadi salah satu momen yang paling dinantikan dalam sepak bola Prancis. Zidane sudah lama disebut sebagai calon penerus Didier Deschamps, tetapi baru sekarang kesempatan itu benar-benar datang.
Setelah meninggalkan Real Madrid pada 2021, Zidane tidak menerima pekerjaan kepelatihan lain. Ia mengaku sengaja menunggu kesempatan menangani negaranya sendiri.
Zidane Gantikan Didier Deschamps
Zinedine Zidane menggantikan Didier Deschamps, yang mengakhiri masa kepemimpinannya setelah sekitar 14 tahun menangani Timnas Prancis.
Deschamps mulai menjabat pada 2012 dan menjadi pelatih dengan masa kerja terpanjang dalam sejarah Les Bleus. Selama periode tersebut, ia membawa Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018, mencapai final Euro 2016, menjuarai UEFA Nations League 2021, serta kembali mencapai final Piala Dunia pada 2022.
Pada Piala Dunia 2026, Prancis melaju hingga semifinal sebelum dikalahkan Spanyol. Les Bleus kemudian menutup turnamen di posisi keempat setelah kalah dari Inggris dalam pertandingan perebutan tempat ketiga.
Meski akhir perjalanannya tidak menghasilkan trofi, warisan Deschamps tetap sangat besar. Ia berhasil menjaga Prancis sebagai salah satu kekuatan utama dunia selama lebih dari satu dekade.
Zidane turut menyampaikan penghormatan kepada mantan rekan setimnya tersebut. Dalam pernyataan resmi FFF, ia memuji 14 tahun pekerjaan Deschamps bersama stafnya dan menyatakan siap melanjutkan perjalanan Timnas Prancis dengan ambisi besar.
Momen Emosional bagi Zinedine Zidane
Penunjukan ini menjadi momen yang sangat emosional bagi Zidane.
Ketika berbicara dalam konferensi pers, suara pria berusia 54 tahun tersebut terlihat bergetar. Ia mengaku sudah menunggu kesempatan ini selama lima tahun dan menyebutnya sebagai salah satu hari paling membahagiakan dalam karier kepelatihannya.
Zidane mengungkapkan bahwa ia menerima beberapa tawaran untuk kembali melatih klub setelah meninggalkan Real Madrid. Namun, seluruh tawaran tersebut ditolaknya karena satu-satunya pekerjaan yang benar-benar ia inginkan adalah menangani Timnas Prancis.
Ia mengatakan tidak ada sesuatu yang lebih besar daripada Timnas Prancis. Bagi Zidane, menjadi pelatih Les Bleus merupakan kebahagiaan, kebanggaan, sekaligus tanggung jawab besar.
Zidane juga mengaku terus mengamati perkembangan Prancis selama tidak melatih. Ia mengikuti pertandingan sebagai pendukung, tetapi juga melihatnya melalui sudut pandang seseorang yang berharap suatu hari akan menjadi pelatih tim tersebut.
Penantian panjang itu akhirnya berakhir pada 28 Juli 2026.
Dari Legenda Pemain Menjadi Pelatih Tim Nasional
Zinedine Zidane bukan sosok baru bagi Timnas Prancis.
Sebagai pemain, ia merupakan salah satu legenda terbesar dalam sejarah sepak bola negara tersebut. Zidane mencatatkan 108 penampilan dan mencetak 31 gol bersama Les Bleus.
Momen terbesarnya terjadi pada final Piala Dunia 1998. Zidane mencetak dua gol melalui sundulan ketika Prancis mengalahkan Brasil 3-0 di Stade de France.
Kemenangan tersebut memberikan gelar Piala Dunia pertama bagi Prancis. Penampilan luar biasa Zidane kemudian membantunya memenangkan Ballon d’Or pada tahun yang sama.
Dua tahun kemudian, Zidane kembali menjadi bagian penting ketika Prancis menjuarai Euro 2000.
Ia juga membawa negaranya mencapai final Piala Dunia 2006. Zidane mencetak gol melalui penalti Panenka dalam pertandingan melawan Italia, tetapi karier internasionalnya berakhir dengan kartu merah setelah menanduk Marco Materazzi.
Walaupun berakhir kontroversial, perjalanan Zidane bersama Les Bleus tetap menjadikannya salah satu pemain paling dihormati dalam sejarah Prancis.
Kini, dua dekade setelah pertandingan terakhirnya bersama tim nasional, Zidane kembali dengan peran yang berbeda.
Ia tidak lagi mengatur permainan dari lini tengah. Kali ini, ia bertanggung jawab menentukan strategi, memilih pemain, dan membawa seluruh tim menuju target besar.
Rekam Jejak Luar Biasa Bersama Real Madrid
Zidane memang belum pernah melatih tim nasional sebelumnya. Namun, rekam jejaknya di level klub sangat sulit diragukan.
Ia menjalani dua periode sebagai pelatih Real Madrid. Periode pertamanya berlangsung dari Januari 2016 sampai Mei 2018, kemudian ia kembali pada Maret 2019 dan bertahan hingga 2021.
Pencapaian terbesarnya adalah memenangkan Liga Champions tiga kali berturut-turut pada 2016, 2017, dan 2018.
Belum ada pelatih lain pada era Liga Champions modern yang mampu menjuarai kompetisi tersebut tiga musim secara beruntun.
Selain tiga gelar Liga Champions, Zidane juga memenangkan dua gelar La Liga, dua Piala Dunia Antarklub, dua Piala Super Eropa, dan sejumlah trofi lainnya bersama Real Madrid.
Keberhasilan itu membuatnya dikenal sebagai pelatih yang mampu menangani ruang ganti berisi pemain-pemain besar.
Ia pernah bekerja dengan Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, Luka Modrić, Toni Kroos, Sergio Ramos, Marcelo, dan sejumlah bintang lain.
Pengalaman tersebut akan sangat berguna bersama Prancis, yang juga memiliki banyak pemain dengan reputasi besar.
Menangani Skuad Bertabur Bintang
Zidane mewarisi salah satu skuad paling berbakat di dunia.
Timnas Prancis memiliki Kylian Mbappé, Ousmane Dembélé, Michael Olise, Désiré Doué, Aurélien Tchouaméni, Eduardo Camavinga, William Saliba, dan banyak pemain muda berkualitas lainnya.
Secara kualitas individu, Prancis tetap memiliki materi untuk bersaing memperebutkan setiap trofi besar.
Namun, banyaknya pemain bagus juga menghadirkan tantangan.
Zidane harus menemukan susunan terbaik, menjaga hubungan di ruang ganti, serta memastikan setiap pemain memahami perannya. Tidak semua bintang bisa selalu menjadi starter.
Salah satu perhatian terbesar tentu tertuju kepada hubungannya dengan Mbappé.
Keduanya memiliki hubungan kuat dengan Real Madrid. Mbappé juga sejak lama menjadikan Zidane sebagai salah satu idolanya.
Namun, di Timnas Prancis, Zidane harus memperlakukan Mbappé bukan sekadar sebagai bintang terbesar, tetapi juga sebagai kapten yang memiliki tanggung jawab terhadap seluruh tim.
Zidane Ingin Prancis Bermain Menyerang
Zidane memberi petunjuk bahwa Prancis akan bermain dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan era Deschamps.
Deschamps dikenal sebagai pelatih pragmatis. Ia lebih mengutamakan keseimbangan, organisasi pertahanan, dan kemampuan memanfaatkan kecepatan pemain depan.
Pendekatan tersebut menghasilkan banyak keberhasilan, tetapi terkadang dianggap terlalu berhati-hati melihat kualitas pemain yang dimiliki Prancis.
Zidane mengatakan dirinya menyukai permainan, gol, dan sepak bola menyerang. Sebagai mantan pemain nomor 10, ia ingin timnya lebih berani menciptakan peluang serta mengendalikan pertandingan.
Namun, sepak bola menyerang tidak berarti mengabaikan pertahanan.
Saat melatih Real Madrid, Zidane dikenal cukup fleksibel. Ia mampu memainkan sepak bola dominan, tetapi juga tidak ragu menggunakan pendekatan lebih praktis ketika menghadapi lawan kuat.
Kemampuan beradaptasi tersebut menjadi salah satu alasan ia sukses di Liga Champions.
Bersama Prancis, tantangannya adalah menemukan sistem yang bisa memaksimalkan kecepatan Mbappé, kreativitas Olise dan Doué, serta kualitas para gelandang.
Kontrak Hingga Piala Dunia 2030
FFF memberi Zidane kontrak selama empat tahun sampai Piala Dunia 2030.
Dalam periode tersebut, ia akan memimpin Prancis dalam beberapa kompetisi besar, termasuk UEFA Nations League 2026–2027, kualifikasi Euro 2028, putaran final Euro 2028 apabila lolos, serta perjalanan menuju Piala Dunia 2030.
Piala Dunia 2030 akan terasa istimewa bagi Zidane karena sebagian turnamen berlangsung di Spanyol, negara tempat ia menghabiskan sebagian besar karier terbaiknya sebagai pemain dan pelatih.
Namun, target pertama Zidane datang jauh lebih cepat.
Ia akan menjalani pertandingan pertamanya sebagai pelatih Prancis ketika menghadapi Turki dalam UEFA Nations League pada 25 September 2026.
Tiga hari kemudian, Prancis bertandang menghadapi Belgia. Pertandingan kandang pertama Zidane dijadwalkan melawan Italia di Stade de France pada 2 Oktober 2026.
Laga melawan Italia tentu mempunyai makna khusus karena negara tersebut menjadi lawan terakhir Zidane sebagai pemain pada final Piala Dunia 2006.
Staf Kepelatihan Belum Diumumkan
Meski sudah diperkenalkan, Zidane belum mengumumkan seluruh anggota staf kepelatihannya.
FFF menyebut komposisi staf baru akan diumumkan pada awal September.
Ada kemungkinan Zidane membawa sejumlah orang yang pernah bekerja bersamanya di Real Madrid. Namun, sampai ada pengumuman resmi, nama-nama tersebut belum bisa dipastikan.
Pemilihan staf menjadi langkah penting karena ritme kerja tim nasional berbeda dengan klub.
Pelatih tidak memiliki pemain setiap hari. Waktu latihan sangat terbatas, sehingga komunikasi, analisis lawan, dan persiapan pertandingan harus dilakukan dengan sangat efisien.
Zidane harus membangun tim kerja yang mampu menerjemahkan idenya dalam waktu singkat.
Ekspektasi Sangat Tinggi
Nama besar Zidane membuat ekspektasi terhadap dirinya langsung meningkat.
Ia bukan pelatih yang datang untuk sekadar membangun tim secara perlahan. Dengan kualitas skuad Prancis dan kontrak hingga 2030, targetnya jelas: memenangkan gelar besar.
Namun, status legenda juga bisa menjadi tekanan.
Keberhasilannya sebagai pemain dan pelatih Real Madrid tidak menjamin bahwa pekerjaannya bersama tim nasional akan berjalan mudah.
Sepak bola internasional memiliki tantangan berbeda. Pertandingan lebih sedikit, waktu persiapan terbatas, dan kesalahan pada turnamen besar sulit diperbaiki.
Zidane juga harus menangani pergantian generasi.
Beberapa pemain senior mungkin perlahan meninggalkan tim, sementara talenta muda akan terus bermunculan. Ia harus mempertahankan keseimbangan antara pengalaman dan energi baru.
Era Baru Les Bleus Resmi Dimulai
Penunjukan Zinedine Zidane terasa seperti perjalanan yang akhirnya mencapai tujuannya.
Ia pernah membawa Prancis menjadi juara dunia sebagai pemain. Ia kemudian menjadi salah satu pelatih tersukses di Eropa bersama Real Madrid.
Sekarang, ia kembali untuk mencoba membawa negaranya meraih kejayaan dari pinggir lapangan.
Philippe Diallo menyebut penunjukan tersebut sebagai pertemuan antara legenda sepak bola Prancis dan sebuah tim dengan potensi luar biasa. FFF percaya bahwa pengalaman, ketenangan, kerja keras, dan mental juara Zidane sesuai dengan ambisi Les Bleus selama empat tahun mendatang.
Zidane sendiri sudah menyampaikan tekadnya. Ia ingin memberikan segalanya agar Prancis kembali memenangkan gelar.
Perjalanan itu akan dimulai pada September.
Apakah Zidane mampu mengulangi kesuksesannya sebagai pemain dan membawa Prancis menjadi juara sebagai pelatih?
Jawabannya baru akan terlihat di lapangan. Namun, satu hal sudah pasti: era baru Les Bleus kini benar-benar dimulai.
Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZS4RyvmrS/
Youtube : https://youtube.com/shorts/SOrqocPXucc?si=V-byUTAGMTqNgOUf
Sumber dan Link Langsung
- FFF – Pengumuman resmi Zinedine Zidane sebagai pelatih Prancis
https://www.fff.fr/article/17144-zinedine-zidane-nouveau-selectionneur-des-bleus.html - Associated Press – Zidane diperkenalkan dan mengungkapkan penantiannya selama lima tahun
https://apnews.com/article/france-coach-zidane-7024af747bd665aefad70244b1743561 - FIFA – Zidane resmi menggantikan Didier Deschamps
https://www.fifa.com/en/articles/zidane-named-france-coach
