Ketika perhatian dunia tertuju pada kemegahan Piala Dunia, masyarakat di sejumlah daerah China justru menemukan pesta sepak bola dengan cara mereka sendiri.
Tidak ada pemain dengan gaji fantastis, transfer bernilai ratusan juta dolar, ataupun deretan bintang dari klub-klub besar Eropa. Sebagian besar pemainnya bekerja sebagai petani, pedagang, guru, pelajar, pekerja bangunan, hingga pengemudi.
Namun, pertandingan mereka mampu memenuhi tribun, menggerakkan perekonomian lokal, dan menarik jutaan penonton melalui siaran langsung serta media sosial.
Kompetisi tersebut dikenal sebagai Village Super League, atau dalam bahasa Mandarin disebut Cun Chao. Turnamen sepak bola amatir ini lahir di Kabupaten Rongjiang, Provinsi Guizhou, dan mulai menjadi fenomena nasional pada 2023.
Popularitasnya terus berkembang hingga musim 2026 diikuti oleh 137 tim desa. Kisah Cun Chao memperlihatkan bahwa kebahagiaan dalam sepak bola tidak selalu harus datang dari turnamen terbesar atau pemain paling terkenal.
Lahir dari Kecintaan Masyarakat terhadap Sepak Bola
Village Super League sebenarnya bukan kompetisi profesional yang dirancang oleh perusahaan besar.
Turnamen tersebut dibangun dari tradisi sepak bola masyarakat Rongjiang yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Warga desa membentuk tim sendiri dan bermain untuk mewakili daerah tempat mereka tinggal.
Cun Chao mulai mencuri perhatian nasional ketika 20 tim desa mengikuti kompetisi pada 2023. Pertandingan biasanya dimainkan pada malam akhir pekan, sehingga warga yang bekerja pada siang hari tetap bisa datang ke stadion.
Para pemain tidak mendapatkan perlakuan seperti bintang profesional. Mereka tetap menjalankan pekerjaan sehari-hari sebelum mengikuti latihan atau pertandingan.
Ada petani yang bermain sebagai bek, pedagang yang menjadi gelandang, pekerja bangunan yang tampil sebagai penyerang, serta guru dan pelajar yang ikut memperkuat desanya.
Justru karena itulah kompetisi ini terasa dekat dengan masyarakat.
Pendukung tidak datang hanya untuk melihat nama terkenal. Mereka datang untuk mendukung kerabat, tetangga, rekan kerja, atau teman yang mereka kenal secara langsung.
Tribun Berubah Menjadi Pesta Budaya
Atmosfer Cun Chao menjadi salah satu alasan utama kompetisi tersebut begitu populer.
Sebelum pertandingan, kelompok pendukung dari berbagai desa memasuki stadion sambil mengenakan pakaian tradisional. Mereka membawa bendera, memainkan alat musik, menari, dan memperkenalkan kebudayaan daerah masing-masing.
Makanan lokal juga menjadi bagian penting dari acara.
Desa-desa peserta membawa hasil pertanian, makanan tradisional, kerajinan tangan, dan berbagai produk khas untuk diperkenalkan kepada pengunjung.
Karena itu, pertandingan Cun Chao tidak terasa seperti pertandingan sepak bola biasa. Stadion berubah menjadi tempat berkumpulnya seluruh masyarakat.
Orang datang bersama keluarga, menikmati makanan, menyaksikan pertunjukan budaya, lalu memberikan dukungan kepada tim desanya.
Perpaduan sepak bola, kebudayaan, dan kebanggaan lokal itulah yang membuat Cun Chao berbeda dari kompetisi profesional.
CGTN bahkan menggambarkan popularitas liga tersebut sebagai pesaing perhatian bagi Chinese Super League karena suasananya yang meriah dan terasa lebih dekat dengan masyarakat.
Dari 20 Tim Menjadi 137 Tim Desa
Perkembangan jumlah peserta menunjukkan betapa cepatnya popularitas Village Super League meningkat.
Pada 2023, kompetisi yang membuat Cun Chao terkenal secara nasional diikuti oleh 20 tim desa. Jumlah itu meningkat menjadi 62 tim pada 2024.
Musim 2025 diikuti oleh 108 tim dengan lebih dari 3.000 pemain. Setahun kemudian, musim keempat yang dimulai pada 2 Januari 2026 kembali memecahkan rekor dengan menghadirkan 137 tim desa.
Kompetisi 2026 dibagi menjadi dua tahap. Babak awal berlangsung dari Januari sampai April, kemudian 20 tim terbaik melanjutkan perjuangan ke fase gugur.
Secara keseluruhan, turnamen dijadwalkan menghadirkan 98 pertandingan sebelum juara ditentukan pada akhir Juli 2026.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa Cun Chao bukan lagi sekadar kegiatan kecil antardesa.
Turnamen itu telah berubah menjadi salah satu fenomena olahraga akar rumput terbesar di China.
Media Sosial Membuat Cun Chao Dikenal Dunia
Salah satu faktor yang mempercepat popularitas Cun Chao adalah media sosial.
Cuplikan gol, perayaan pemain, tarian tradisional, dan suasana tribun menyebar luas melalui berbagai platform digital China.
Banyak orang tertarik bukan hanya karena kualitas pertandingannya, tetapi juga karena suasananya terasa lebih jujur dan spontan.
Pemain bisa saja melakukan kesalahan sederhana, tetapi pendukung tetap memberikan semangat. Tidak ada tekanan transfer mahal atau tuntutan keuntungan sebesar kompetisi profesional.
Yang dipertaruhkan adalah kebanggaan desa.
Siaran langsung juga membuat orang yang tinggal jauh dari Rongjiang tetap bisa mengikuti pertandingan. Hal tersebut membantu menjadikan pemain-pemain amatir sebagai tokoh populer di wilayahnya masing-masing.
Popularitas digital akhirnya membawa pengunjung dari berbagai wilayah China ke Rongjiang. Mereka datang untuk menyaksikan pertandingan sekaligus mengenal budaya dan makanan Guizhou.
Menggerakkan Perekonomian Daerah
Cun Chao bukan hanya memberikan hiburan. Turnamen tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
Ketika ribuan pengunjung datang, hotel, restoran, penjual makanan, transportasi, dan toko kerajinan ikut mendapatkan keuntungan.
Produk-produk lokal juga dipromosikan melalui siaran langsung dan platform perdagangan digital.
Model tersebut kemudian menjadi contoh bagaimana olahraga akar rumput dapat membantu pembangunan daerah tanpa harus mengandalkan pemain mahal.
Masyarakat menjadi pemain, panitia, penjual, pendukung, dan penerima manfaat dalam kegiatan yang sama.
Namun, daya tarik terbesar Cun Chao bukan semata-mata jumlah uang yang dihasilkan.
Keberhasilannya berasal dari rasa memiliki. Turnamen tidak terasa seperti acara yang dipaksakan dari luar karena masyarakat sendiri menjadi pusat kegiatannya.
Fenomena Serupa Muncul di Jiangsu
Keberhasilan sepak bola akar rumput tidak hanya terjadi di Guizhou.
Provinsi Jiangsu juga memiliki Jiangsu Football City League, sebuah kompetisi antarkota yang menjadi fenomena besar sepanjang 2025.
Liga tersebut mempertemukan tim dari 13 kota di Jiangsu. Pemainnya didominasi warga lokal dan pesepak bola amatir, sementara harga tiket dibuat terjangkau.
Pertandingan final antara Nantong dan Taizhou berlangsung di Nanjing Olympic Sports Center dan disaksikan oleh 62.329 penonton.
Setelah pertandingan berakhir 0-0, Taizhou menang 4-3 melalui adu penalti dan menjadi juara.
Jumlah penonton tersebut sangat besar, bahkan jika dibandingkan dengan beberapa pertandingan profesional di berbagai negara.
Salah satu pertandingan antara Nanjing dan Suzhou sebelumnya juga menarik lebih dari 60.000 penonton. Laporan menyebut ratusan ribu orang sempat mengakses situs penjualan tiket.
Kesuksesan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat China sebenarnya memiliki minat besar terhadap sepak bola.
Masalahnya bukan kurangnya kecintaan terhadap permainan, melainkan bagaimana menciptakan kompetisi yang membuat mereka merasa terlibat.
Mengapa Liga Amatir Lebih Dicintai?
Sepak bola profesional China pernah mencoba berkembang dengan mendatangkan pemain dan pelatih terkenal melalui kontrak bernilai besar.
Namun, pengeluaran tersebut tidak selalu menghasilkan kemajuan yang bertahan lama.
Sejumlah klub mengalami masalah keuangan, sedangkan kasus korupsi dan pengaturan pertandingan merusak kepercayaan publik terhadap sepak bola profesional.
Kompetisi seperti Cun Chao menawarkan pengalaman yang berbeda.
Harga tiketnya murah atau bahkan gratis. Pemainnya berasal dari lingkungan sekitar. Persaingan dibangun berdasarkan kebanggaan desa atau kota, bukan sekadar kepentingan perusahaan.
Pendukung juga merasa mempunyai hubungan langsung dengan tim.
Mereka mungkin mengenal penjaga gawang sebagai guru sekolah, penyerang sebagai pemilik toko, atau pemain bertahan sebagai tetangga sendiri.
Hubungan itu sulit diciptakan oleh klub profesional yang terus mengganti pemain dan pemilik.
Belum Menjadi Solusi bagi Tim Nasional China
Walaupun sangat populer, Cun Chao belum otomatis menyelesaikan masalah sepak bola China.
Tim nasional putra China masih kesulitan bersaing di tingkat dunia. Kompetisi amatir seperti Cun Chao juga belum sepenuhnya terhubung dengan akademi, klub profesional, dan sistem pembinaan pemain nasional.
Para pengamat menilai bahwa antusiasme masyarakat harus diikuti dengan jalur yang jelas bagi pemain muda berbakat.
Tanpa pelatih berkualitas, kompetisi usia muda, fasilitas latihan, serta sistem promosi menuju level profesional, liga amatir hanya akan menjadi pesta masyarakat tanpa banyak menghasilkan pemain elite.
Namun, hal tersebut tidak berarti Cun Chao gagal.
Tujuan utama kompetisi tersebut memang tidak selalu untuk menemukan bintang masa depan.
Bagi masyarakat Rongjiang, sepak bola menjadi cara untuk menjaga kebudayaan, mempererat hubungan sosial, memperkenalkan daerah, dan menikmati kebersamaan.
Nilai seperti itu tetap penting meskipun tidak langsung menghasilkan pemain untuk tim nasional.
China Tidak Membutuhkan Piala Dunia?
Ungkapan “China tidak membutuhkan Piala Dunia karena mereka punya Liga Super Desa” tentu bukan pernyataan harfiah.
Masyarakat China tetap mengikuti Piala Dunia dan ingin melihat tim nasionalnya berhasil di tingkat internasional.
Kalimat tersebut lebih tepat dibaca sebagai sindiran sekaligus pujian terhadap kekuatan sepak bola masyarakat.
Piala Dunia menawarkan pemain terbaik, stadion besar, teknologi canggih, dan perhatian global.
Cun Chao menawarkan sesuatu yang berbeda: kedekatan, kebanggaan lokal, budaya, dan rasa memiliki.
Di sana, orang tidak perlu mengenal pemain melalui iklan televisi. Mereka mungkin bertemu pemain yang sama di pasar atau di tempat kerja keesokan harinya.
Tidak ada kontrak bernilai fantastis. Hadiah pemenang juga bukan tujuan utama.
Namun, sorakan yang terdengar dari tribun tetap terasa tulus.
Sepak Bola dalam Bentuk Paling Sederhana
Popularitas Cun Chao mengingatkan bahwa sepak bola pada dasarnya adalah permainan masyarakat.
Sebelum berubah menjadi industri global, sepak bola dimainkan di lapangan sederhana oleh orang-orang yang mewakili lingkungan tempat mereka tinggal.
Hal itulah yang masih terasa kuat di Rongjiang.
Pemain bertanding untuk nama desanya. Pendukung hadir karena mereka merasa menjadi bagian dari tim. Kebudayaan lokal ikut dirayakan, sementara pertandingan menjadi alasan seluruh masyarakat berkumpul.
Village Super League mungkin tidak menghasilkan kualitas permainan setinggi Piala Dunia.
Namun, kompetisi tersebut mampu menghadirkan sesuatu yang terkadang hilang dari sepak bola modern: hubungan langsung antara pemain, pendukung, dan daerah yang mereka wakili.
Karena itu, China mungkin masih menginginkan keberhasilan di Piala Dunia. Namun, untuk menikmati kebahagiaan dari sepak bola, masyarakatnya tidak perlu menunggu tim nasional menjadi juara dunia.
Mereka sudah menemukannya di lapangan-lapangan desa.
Youtube : https://youtube.com/shorts/TYmyzfTpmGc?si=v9hjYJMdFIanDkLL
Tiktok : https://www.tiktok.com/@majalahbola1/video/7667322219193699605?_r=1&_t=ZS-98ORRv6BvKm
Sumber
- Xinhua — Cun Chao 2026 diikuti rekor 137 tim desa
https://english.news.cn/20260102/b154dc2146384d42a69efc0419217190/c.html - People’s Daily — Musim keempat Village Super League dimulai pada Januari 2026
https://en.people.cn/n3/2026/0119/c90000-20415936.html - Xinhua — Sebanyak 108 tim mengikuti Cun Chao 2025
https://english.news.cn/20250104/e72f2901b3554ce1ba96299b8a4b459b/c.html - Pemerintah China — Musim ketiga Village Super League pada 2025
https://english.www.gov.cn/news/202501/05/content_WS6779db1dc6d0868f4e8ee865.html
