Piala Dunia 2026 sudah berakhir, tetapi pembicaraan mengenai turnamen terbesar sepak bola dunia itu rupanya belum selesai. Bukan hanya soal pertandingan, gol-gol indah, kontroversi wasit, atau keberhasilan Spanyol menjadi juara. FIFA kini juga menghadapi kritik keras dari kelompok suporter yang merasa kepentingan penggemar semakin ditinggalkan.

Football Supporters Europe atau FSE menjadi salah satu organisasi yang paling lantang menyuarakan kekecewaan tersebut. Beberapa hari setelah pertandingan final Piala Dunia 2026, FSE menerbitkan pernyataan dengan judul yang sangat tajam, yakni “A World Cup That Failed Supporters” atau “Piala Dunia yang Gagal Melayani Suporter”.

Dalam pernyataannya pada 21 Juli 2026, FSE menilai Piala Dunia seharusnya menjadi perayaan sepak bola dan para pendukung yang menghidupkan permainan tersebut. Namun, menurut mereka, turnamen kali ini justru memperlihatkan banyak masalah yang sedang terjadi dalam sepak bola modern.

FSE menuding FIFA lebih mengutamakan pertunjukan besar, kepentingan komersial, dan berbagai keputusan dari kalangan elite dibandingkan pengalaman suporter yang datang langsung ke stadion. Mereka juga meminta komunitas sepak bola dunia menekan FIFA agar melakukan perubahan besar dalam cara organisasi tersebut mengambil keputusan.

Harga Tiket Piala Dunia 2026 Jadi Sorotan Utama

Salah satu keluhan terbesar suporter adalah mahalnya harga tiket Piala Dunia 2026. FIFA menggunakan sistem harga dinamis atau dynamic pricing, yang memungkinkan harga tiket naik mengikuti tingkat permintaan.

Sistem seperti ini dianggap merugikan suporter biasa. Penggemar tidak selalu mengetahui berapa harga akhir yang harus mereka bayar sebelum masuk ke antrean pembelian. Ketika permintaan tinggi, harga tiket dapat meningkat dengan cepat.

Associated Press melaporkan bahwa tiket yang tersedia untuk penjualan umum memiliki harga mulai dari sekitar $140 hingga $2.735 untuk pertandingan fase grup. Sementara itu, tiket pertandingan final dapat mencapai $8.680.

Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Piala Dunia 2022 di Qatar. Setelah mendapat kritik, FIFA menyediakan sebagian tiket seharga $60 untuk setiap pertandingan melalui federasi negara peserta. Namun, jumlah tiket murah itu sangat terbatas dan tidak bisa dinikmati oleh semua penggemar.

Masalah tidak berhenti pada penjualan tiket awal. Platform penjualan kembali resmi FIFA juga menjadi sasaran kritik. Dalam sistem tersebut, pemilik tiket dapat memasang harga jual kembali tanpa batas yang ketat.

Akibatnya, muncul tiket pertandingan final yang dipasang dengan harga mendekati $2,3 juta. Harga tersebut memang tidak berarti tiket itu benar-benar terjual, tetapi kemunculannya memperlihatkan betapa tidak terkendalinya pasar penjualan kembali selama turnamen.

FSE menilai FIFA telah mengubah kesempatan menonton Piala Dunia menjadi semacam perang penawaran. Loyalitas suporter dianggap dimanfaatkan karena penggemar fanatik berada dalam posisi sulit: membayar harga mahal atau kehilangan kesempatan menyaksikan tim nasional mereka.

FIFA Sempat Dilaporkan ke Komisi Eropa

Kritik terhadap tiket Piala Dunia sebenarnya sudah muncul sebelum turnamen dimulai. Pada Maret 2026, FSE bersama Euroconsumers mengajukan keluhan resmi kepada Komisi Eropa mengenai praktik penjualan tiket FIFA.

Kedua organisasi tersebut menuduh FIFA menggunakan posisi monopolinya untuk menetapkan harga berlebihan, aturan pembelian yang tidak transparan, dan proses yang dianggap tidak adil bagi konsumen Eropa.

Dalam laporan tersebut, tiket final termurah yang tersedia secara terbuka disebut mencapai $4.185. Jumlah itu lebih dari tujuh kali lipat dibandingkan tiket final termurah Piala Dunia 2022.

FSE dan Euroconsumers juga mempermasalahkan promosi tiket seharga $60. Mereka menilai tiket dalam kategori tersebut tersedia dalam jumlah sangat kecil sehingga hampir habis sebelum penjualan untuk masyarakat umum benar-benar dibuka.

Sistem penjualan kembali FIFA juga dikritik karena pembeli dan penjual sama-sama dikenai biaya sebesar 15 persen. Sebagai contoh, pada tiket seharga $800, total biaya tambahan dari kedua belah pihak bisa membuat FIFA mendapatkan sekitar $240 dari proses penjualan kembali tersebut.

Biaya Transportasi Ikut Membebani Suporter

Piala Dunia 2026 digelar di tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen tersebut menggunakan banyak kota tuan rumah yang dipisahkan oleh jarak sangat jauh.

Bagi suporter yang ingin mengikuti perjalanan tim kesayangannya, biaya yang diperlukan bukan hanya tiket pertandingan. Mereka juga harus membayar penerbangan, hotel, makanan, transportasi lokal, dan berbagai kebutuhan lainnya.

FSE menyoroti kenaikan biaya transportasi di beberapa kota tuan rumah. Menurut organisasi tersebut, ada operator transportasi yang menaikkan harga ketika permintaan dari suporter meningkat.

FIFA dinilai tidak melakukan langkah yang cukup untuk melindungi penggemar dari kenaikan tersebut. Janji mengenai tiket dan transportasi yang terjangkau dalam dokumen awal pencalonan tuan rumah dianggap tidak benar-benar diwujudkan ketika turnamen berlangsung.

Kondisi ini membuat Piala Dunia semakin sulit dijangkau oleh pendukung kelas pekerja. Suporter yang sudah bertahun-tahun mengikuti tim nasionalnya justru bisa tersisih karena hanya penggemar dengan kemampuan keuangan besar yang sanggup membayar seluruh biaya perjalanan.

Suporter Disabilitas Merasa Ditinggalkan

Persoalan akses bagi suporter disabilitas juga menjadi bagian penting dalam kritik terhadap FIFA. FSE menyebut tiket yang mudah diakses oleh penyandang disabilitas tidak terlindungi dengan baik.

Beberapa tiket aksesibilitas bahkan disebut dibeli oleh calo dan dijual kembali melalui platform resmi FIFA untuk mendapatkan keuntungan. FSE juga mengkritik tidak tersedianya tiket pendamping gratis secara merata bagi suporter yang membutuhkannya.

Menurut FSE, kelompok penyandang disabilitas tidak dilibatkan secara bermakna dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Akibatnya, turnamen yang dikampanyekan sebagai Piala Dunia untuk semua orang justru menciptakan banyak hambatan bagi sebagian suporter.

Kritik tersebut memperlihatkan bahwa masalah Piala Dunia 2026 bukan sekadar harga mahal. Ada persoalan lebih besar mengenai siapa yang bisa datang ke stadion, siapa yang benar-benar mendapatkan akses, dan kelompok mana yang tidak ikut dipertimbangkan dalam penyelenggaraan turnamen.

Hydration Break Dianggap Menjadi Ruang Iklan Baru

Keputusan FIFA menerapkan jeda minum atau hydration break dalam setiap pertandingan juga menuai reaksi dari suporter. Jeda tersebut dilakukan pada pertengahan setiap babak untuk membantu pemain menghadapi panas selama turnamen.

Namun, aturan itu berlaku tanpa melihat kondisi cuaca, lokasi pertandingan, maupun suhu di dalam stadion. Pendukung di beberapa pertandingan bahkan terdengar mencemooh ketika permainan dihentikan.

Selain digunakan pelatih untuk memberikan instruksi taktik, jeda tersebut juga dimanfaatkan stasiun televisi untuk menampilkan iklan. Hal ini memperkuat anggapan bahwa sepak bola mulai mengikuti pola olahraga Amerika dengan tambahan waktu khusus untuk kebutuhan komersial.

FSE juga menyoroti perubahan pada waktu istirahat, hiburan yang diperpanjang, serta munculnya jeda iklan selama pertandingan. Mereka khawatir identitas sepak bola perlahan diubah untuk mengikuti kebutuhan sponsor dan penyiar televisi.

Bagi suporter, sepak bola memiliki alur yang berbeda dari olahraga yang sering dihentikan untuk iklan. Karena itu, penambahan jeda dianggap dapat mengganggu ritme pertandingan dan menjauhkan sepak bola dari karakter aslinya.

Masalah Visa dan Campur Tangan Politik

Piala Dunia 2026 juga menghadapi persoalan mengenai visa dan pembatasan perjalanan. Kebijakan imigrasi Amerika Serikat membuat sebagian penggemar dari beberapa negara kesulitan menghadiri pertandingan.

FSE menyebut adanya kelompok masyarakat global yang tidak dapat mengikuti turnamen karena pembatasan perjalanan. Organisasi tersebut juga menyoroti kekhawatiran yang membuat sebagian pendukung LGBT memilih tidak datang.

Kontroversi lain muncul ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan hukuman pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Larangan satu pertandingan Balogun kemudian ditangguhkan sebelum laga babak 16 besar melawan Belgia. FIFA menyatakan badan disiplin mereka bekerja secara independen, tetapi kejadian tersebut tetap memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan campur tangan politik dalam keputusan sepak bola.

FSE menilai kedekatan antara kepemimpinan FIFA dan pemerintahan Amerika Serikat menjadi salah satu persoalan yang merusak kepercayaan publik terhadap independensi organisasi sepak bola dunia tersebut.

FIFA Dinilai Tak Lagi Mendengar Suporter

Keluhan utama FSE bukan hanya satu kebijakan tertentu. Mereka melihat adanya pola bahwa suporter semakin jarang dilibatkan dalam keputusan yang langsung memengaruhi pengalaman menonton sepak bola.

Mulai dari harga tiket, sistem penjualan kembali, biaya perjalanan, akses untuk penyandang disabilitas, aturan pertandingan, hingga hubungan FIFA dengan pemerintah, semuanya dinilai diputuskan tanpa konsultasi yang cukup bersama penggemar.

FSE bahkan menyebut FIFA tidak layak mengatur sepak bola dunia dalam bentuk organisasinya saat ini. Mereka menuntut perubahan tata kelola dan meminta kekuasaan pengambilan keputusan dikembalikan secara lebih seimbang kepada Dewan FIFA dan Kongres FIFA.

Kelompok tersebut juga ingin klub, liga, pemain, dan perwakilan suporter benar-benar dilibatkan sebelum kebijakan besar ditetapkan. Bukan hanya diberi informasi ketika semua keputusan sudah selesai dibuat.

Piala Dunia 2030 Akan Menjadi Ujian Berikutnya

Setelah kritik terhadap Piala Dunia 2026, perhatian kini mulai mengarah ke Piala Dunia 2030. Turnamen tersebut dijadwalkan berlangsung di Spanyol, Portugal, dan Maroko, dengan beberapa pertandingan peringatan seratus tahun digelar di Argentina, Paraguay, dan Uruguay.

Format penyelenggaraan yang melibatkan enam negara dan tiga benua berpotensi menciptakan masalah perjalanan yang lebih besar. Jika kepentingan suporter tidak dipikirkan sejak awal, biaya transportasi dan akomodasi dapat menjadi semakin mahal.

FSE meminta seluruh tuan rumah Piala Dunia 2030 menempatkan penggemar sebagai bagian utama dalam perencanaan. Harga tiket, transportasi, aksesibilitas, dan hak suporter harus dibahas sebelum rencana komersial dan hiburan ditetapkan.

Piala Dunia 2026 memang menghadirkan 104 pertandingan, banyak gol, kejutan dari negara-negara kecil, dan stadion yang dipenuhi penonton. Namun, besarnya jumlah penonton tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh kebijakan FIFA sudah benar.

Suporter tetap datang karena kecintaan mereka terhadap tim nasional dan sepak bola. Loyalitas tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan untuk terus menaikkan harga atau mengabaikan hak penggemar.

Kritik yang muncul setelah Piala Dunia 2026 menjadi peringatan bagi FIFA. Sepak bola memang membutuhkan sponsor, pemasukan besar, teknologi, dan penyelenggaraan yang aman. Namun, tanpa suporter, stadion hanya menjadi bangunan besar tanpa kehidupan.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah FIFA mampu membuat turnamen yang menghasilkan banyak uang. Pertanyaan terbesarnya adalah apakah FIFA masih mau mendengar orang-orang yang selama ini membuat sepak bola menjadi olahraga paling populer di dunia.

Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSXvLpmET/
Youtube : https://youtube.com/shorts/_MfFTV8iFXU?si=P1Xhi-X5sWYg-Qwg

Sumber Artikel

  1. Football Supporters Europe – A World Cup That Failed Supporters
    https://www.fanseurope.org/news/statement-a-world-cup-that-failed-supporters/
  2. Football Supporters Europe – Keluhan FSE dan Euroconsumers kepada Komisi Eropa
    https://www.fanseurope.org/news/joint-statement-fse-euroconsumers-file-complaint-to-the-european-commission-against-fifa-over-2026-world-cup-ticket-practices/
  3. Associated Press – How the Biggest World Cup in History Will Be Remembered
    https://apnews.com/article/world-cup-final-spain-argentina-e45fd30932bb9885812805cafa99ca33
  4. Football Ground Guide – Supporters Group Brands FIFA Unfit to Govern
    https://footballgroundguide.com/news/major-supporters-group-brands-fifa-unfit-to-govern-after-2026-world-cup-that-betrayed-fans.html
  5. Mundo Deportivo – Scathing Statement Against FIFA After the World Cup
    https://www.mundodeportivo.com/en/20260722/1004209026/scathing-statement-against-fifa-over-what-happened-at-the-world-cup.html
  6. FIFA – Supporter Entry Tier Tickets for World Cup 2026
    https://www.fifa.com/en/tournaments/mens/worldcup/canadamexicousa2026/articles/fifa-world-cup-2026-new-ticket-pricing-tier

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *